Loading...

Selasa, 22 Februari 2011

HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS OBAT ANTIKANKER

HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS
OBAT ANTIKANKER (ANTINEOPLASMA)

Obat antikanker adalah senyawa kemoterapetik yang digunakan untuk pengobatan tumor yang membahayakan kehidupan.
Obat antikanker sering dinamakan pula sebagai obat Sitotoksik, sitostatik atau antineoplasma.
Tumor adalah istilah untuk menunjukkan adanya pertumbuhan tidak normal dari masa atau jaringan tubuh. Tumor terbentuk karena adanya mutasi pada biosintesis sel, yaitu kekeliruan pada urutan DNA karena terpotong, tersubstitusi atau pengaturan kembali, adanya adisi dan integrasi bahan genetik virus ke dalam gen dan adanya perubahan ekspresi genetik.
Tujuan kemoterapi kanker adalah merusak secara selektif sel tumor yang berbahaya tanpa mengganggu sel normal. Berdasarkan lokasinya, tumor yang membahayakan dibedakan menjadi:
1. Karsinoma (pada jaringan kelenjar)
2. Sarkoma (pada jaringan penghubung)
3. Limfoma (pada ganglia)
4. Leukemia (pada sel darah)

Pengobatan kanker dapat dikakukan dengan cara:
1. Pembedahan
2. Radiasi
3. Kemoterapi
4. Endokrinoterapi
5. Imunoterapi


Mekanisme kerja obat antikanker
Obat antikanker bekerja dengan cara mempengaruhi metabolisme asam nukleat terutama DNA, atau biosintesis protein.



Obat antikanker dapat mempengaruhi proses kehidupan sel. Proses kehidupan sel merupakan suatu siklus yang terdiri dari beberapa fase sebagai berikut:
1. Fase mitotik (M)
2. Fase Post mitotik (G1)
3. Fase sintetik (S)
4. Fase post sintetik (G2)

Obat antikanker dibagi menjadi lima kelompok yaitu:
A. Senyawa Pengakilasi, adalah senyawa reaktif yang dapat mengalkilasi DNA, RNA dan enzim-enzim tertentu. Senyawa ini digunakan pada pengobatan kanker di jaringan limfoid dan sistem retikuloendotel. Efek sampingnya cukup kuat yaitu dapat merusak sumsum tulang, menyebabkan leukopenia dan trombositopenia serta menekan kekebalan.


Struktur Umum:

R Nama Obat Dosis
CH3 Mekloretamin I.V: 0,4 mg/kgbb/hari
Klorambusil p.o.: 0,1-0,3 mg/kgbb/hari
Melfalan p.o.: 0,15 mg/kgbb/hari
Siklofosfamid I.V: 10-15 mg/kgbb/mg


B. Antimetabolit
Antimetabolit adalah senyawa yang dapat menghambat jalur metabolik yang penting untuk kehidupan dan reproduksi sel kanker, melalui penghambatan asam folat, purin, pirimidin, dan asam amino serta jalur nukleosida pirimidin, yang diperlukan pada sintesis DNA. Hambatan replikasi DNA langsung maupun tidak langsung menyebabkan sel tidak berkembang biak dan mengalami kematian. Struktur antimetabolit berhubungan erat dengan struktur metabolit normal dan bersifat sebagai antagonis.
Berdasarkan sifat antagonismenya antimetabolit dibagi menjadi empat kelompok yaitu antagonis pirimidin, antagonis purin, antagonis asam folat, dan antagonis asam amino.
1. Antagonis Pirimidin
Antagonis pirimidin pada umumnya berupa pra-obat, secara in vivo mengalami anabolisme menjadi senyawa aktif, yang dapat mempengaruhi sintesis DNA pada fase awal dengan menyebabkan kekosongan asam timidilat sehingga sel mengalami kematian (thymineless death).
Contoh antagonis pirimidin :

R1 R2 Nama
H H Urasil
CH3 H Timin
F H 5-Fluorourasil
F Tegafur
F Floksuridin


2. Antagonis Purin, adalah pra-obat dan menjadi aktif setelah mengalami anabolisme menjadi nukleotida dan kadang-kadang menjadi difosfat atau trifosfat.
Contoh antagonis purin: 6-merkaptopurin, azatioprin dan tioguanin.

3. Antagonis Asam Folat bekerja secara tidak khas, dengan menghambat secara bersaing dihidrofolat reduktase, suatu enzim yang mengkatalisis reduksi asam dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat.
Contoh antagonis asam folat: aminopterin, metotreksat dan ketotreksat.

4. Antagonis Asam Amino
Glutamin dan asam glutamat bukan merupakan nutrien penting pada sel normal, tetapi banyak sel tumor memerlukan kedua senyawa tersebut untuk proses kehidupannya. Antagonis glutamin dapat menghambat beberapa proses metabolik yang memerlukan glutamin sebagai kofaktor.


C. Antikanker Produk Alam
Antikanker produk alam adalah senyawa yang dihasilkan dari produk alam dan berkhasiat sebagai antikanker.
Antikanker produk alam dibagi menjadi tiga kelompok yaitu antibiotika antikanker, antikanker produk tanaman dan antikanker produk hewan.
1. Antibiotika Antikanker
Beberapa antibiotika, mula-mula dikembangkan sebagai senyawa antibakteri ternyata didapatkan mempunyai efek sitotoksik tinggi. Pada umumnya antibiotik kanker sulit diabsorbsi pada saluran cerna sehingga diberikan melalui parenteral. Contoh: mitomisin, daktinomisin,


R
Nama

H Daunorubisin
OH Doksorubin

a. Mitomisin C, Cincin kuinon tereduksi, guggus metoksi tersier hilang dan mitomisin menjadi bentuk terprotonasi. Bentuk inilah yang aktif sebagai senyawa pengalkilasi.
b. Daktinomisin, isolasi kultur dari Streptomyces chrysomallus. Dua cincin laton peptida daktinomisin dapat menduduki celah kecil pada dobel heliks DNA dan berinteraksi denngan gugus amino dari guanin melalui ikatan hidrogen khas. Penggantian pada gugus 4 dan –metil serta gugus 2 amino akan mempengaruhi kerja interkalasi dengan DNA dan biasanya menurunkan keefektifannya.
c. Turunan antraksilin, bekerja menghambat proses replikas dan transripsi DNA. Cincin B dan C sebagai interkalator, Cincin A dan gugus amino
2. Antikanker Produk

3. Antikanker Rekayasa Genetika

D. Hormon
Beberapa neoplasma dapat dikontrol dengan baik oleh hormon seks, seperti hormon androgen, progestin dan estrogen, serta hormon adrenokortikoid. Biasanya umtuk pengobatan tambahan sesudah pembedahan, dikombinasikan dengan obat antikanker yang lain.
E. Golongan Lain-lain

Rabu, 16 Februari 2011

SERVIKS


Pengetahuan Tentang Factor Resiko
Kanker Serviks dan Perilaku Pengujian Papanicolaou (Pap)smear diantara Wanita Turki

A. LATAR BELAKANG
Tujuan penulisan ini adalah untuk menguji pengetahuan tentang kanker serviks dan dalam kaitannya dengan pengujian Papanicolaou (Pap) antara wanita Turki. Kurangnya pengetahuan tentang kanker serviks mungkin terkait dengan fakta (McAvoy & Raza, 1991; Kottke et al, 1995;. Dignan et al. 1996). Di sisi lain, kanker serviks terus menjadi penyakit yang berhubungan dengan social ekonomi dan perbedaan demografis di kedua berkembang serta negara-negara maju (Juon & Klassen, 2003; Kaku et al, 2008).. Di AS, meskipun secara keseluruhan tren penurunan kanker leher rahim masih ada sebuah disparitas di tingkat kematian bagi kematian akibat kanker-hubungan khusus antara usia tertentu serta geografis dan kelompok sosial ekonomi. Telah ditemukan bahwa pendidikan rendah, kurangnya cakupan kesehatan, dan lokasi pedesaan yang terkait dengan pencegahan skrining kanker serviks yang memadai (Juon et al, 2003;. Nelson et al, 2003;. Coughlin et al, 2006). Di Kuwait, (Sairafi & Muhamed (2009) menemukan bahwa tingkat pendidikan adalah satu satunya faktor yang signifikan secara independen terkait dengan pengetahuan yang tidak memadai dan sikap terhadap skrining kanker serviks saat disesuaikan dengan pengaruh faktor lain dalam regresi logistik multivariat analisis. Dalam studi serupa yang dilakukan di Turki, itu menyatakan bahwa sebagai tingkat pendidikan dan usia meningkat dan dengan adanya jaminan sosial, frekuensi memiliki pengujian pap-smear juga meningkat (Kalyoncu dkk, 2003.; Ayküz et al, 2008)..

B. MASALAH
Kanker leher rahim adalah penyakit luas dan sering fatal mempengaruhi 1 juta perempuan secara global pada tahun 2005. Bukan hanya karena kanker kedua yang paling sering terjadi pada wanita, tetapi juga merupakan penyebab kedua kematian akibat kanker, akuntansi untuk lebih dari 250.000 kematian pada tahun 2005 (Behtash & Mehrdad 2006;WHO 2007). Dari 27.755 kasus kanker yang diamati di Turki pada tahun 2002, 1.364 (4,9%) kasus kanker leher rahim. Dari 17.768 wanita yang meninggal pada tahun yang sama, kematian dari 725 (4.1%) disebabkan oleh kanker leher rahim. Menurut data ini, kanker leher rahim adalah jenis kanker paling umum di kedelapan baik dari segi kejadian dan penyebab kematian (Özgül, 2007). Frekuensi terjadinya kanker leher rahim di Turki berada di bawah tingkat negara maju banyak yang terampil melaksanakan program nasional mereka skrining.

C. TUJUAN
1. Untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan perempuan Di Turki yang melakukan papilloma virus manusia (HPV), sebelumnya diseleksis berdasarkan, status sosial-ekonomi rendah dan miskin, kebersihan (Hoai Apakah et al, 2007;. Özgül, 2007;. Yaren et al, 2007; Kaya 2009)., kegiatan skrining kanker dan yang tidak menerima tes pap smear pada kanker leher rahim
2. Untuk menganalisis dampak sosio-demografis tertentu seperti kelompok usia perempuan, karakteristik status perkawinan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, memiliki sejarah kanker di keluarga dan setelah menerima informasi mengenai kanker leher rahim sebelumnya pada kebiasaan melakukan pengujian pap smear

D. TEORI
Kanker serviks merupakan pertumbuhan dari suatu kelompok sel yang tidak normal pada serviks (leher rahim). Perubahan ini biasanya memakan waktu beberapa tahun sebelum berkembang menjadi kanker. Oleh sebab itu sebenarnya terdapat kesempatan yang cukup lama untuk mendeteksi apabila terjadi perubahan pada sel serviks melalui skrining (papsmear atau IVA) dan menanganinya sebelum menjadi kanker serviks(National cancer institute, 2008).

Kebanyakan infeksi HPV dan kanker serviks stadium dini berlangsung tanpa menimbulkan gejala sedikitpun sehingga penderita masih dapat menjalani kegiatan sehari-hari. Namun, jika dilakukan pemeriksaan deteksi dini dapat ditemukan adanya sel-sel serviks yang tidak normal yang disebut juga sebagai lesi prakanker. Bila kanker sudah mengalami progresifitas atau stadium lanjut maka gejala-gejala yang dapat timbul antara lain:
1. Pendarahan setelah senggama.
2. Pendarahan spontan yang terjadi antara periode menstruasi rutin.
3. Timbulnya keputihan yang bercampur dengan darah dan berbau.
4. Nyeri panggul dan gangguan atau bahkan tidak bisa buang air kecil.
5. Nyeri ketika berhubungan seksual(National cancer institute, 2008).

Penyebab utamanya adalah virus yang disebut Human Papilloma (HPV) yang dapat menyebabkan kanker(Wallboomers JH et al. Pathol, 1999). HPV 16 dan 18 secara bersama mewakili 70% penyebab kanker serviks(Munoz, 2004), biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya namun kadang bisa menjadi infeksi persisten yang dapat berkembang menjadi kanker serviks (Moscicki AB ,2005), yang perlu diketahui mengenai virus HPV:
1. HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual,
2. Penularan dapat juga terjadi meski tidak melalui hubungan seksual,
3. HPV dapat bertahan dalam suhu panas (Winer, 2003)

Setiap perempuan berisiko terkena HPV penyebab kanker serviks dalam masa hidupnya tanpa memandang usia, latar belakang dan gaya hidup sangat mempengaruhi terkenanya HPV(Baseman JG, 2005., Bosch FX, 2002). Setiap perempuan berisiko karena:
1. Biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya. Mereka yang mengalami infeksi persisten jarang menunjukan gejala pada stadium awal, dan biasanya berkembang menjadi kanker serviks beberapa tahun kemudian.
2. Setelah infeksi HPV, tubuh kita tidak dapat selalu membentuk kekebalan, maka kita tidak terlindungi dari infeksi berikutnya(De Jong A et al, 2004., Stanley M, 2006).
Klasifikasi
HPV merupakan virus DNA dengan klasifikasi
Familia : Papovaviridae
Genus : Papillomavirus
Spesies : Human Papillomavirus
Morfologi Papilloma Virus

Papovavirus merupakan virus kecil ( diameter 45-55 nm ) yang mempunyai genom beruntai ganda yang sirkuler diliputi oleh kapsid (kapsid ini berperan pada tempat infeksi pada sel) yang tidak berpembungkus menunjukkan bentuk simetri ikosahedral. Berkembang biak pada inti sel menyebabkan infeksi laten dan kronis pada pejamu alamiahnya dan dapat menyebabkan tumor pada beberapa binatang (Contoh : Virus Papilloma manusia (kutil), Virus BK (diasingkan dari air kemih penderita yang mendapat obat-obat imunosupresif)).
Mekanisme infeksi virus diawali dengan protein menempel pada dinding sel dan mengekstraksi semua protein sel kemudian protein sel itu ditandai (berupa garis-garis) berdasarkan polaritasnya. Jika polaritasnya sama denagn polaritas virus maka, dapat dikatakan bahwa sel yang bersangkutan terinfeksi virus. Setelah itu, virus menginfeksikan materi genetiknya ke dalam sel yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi gen jika materi genetik virus ini bertemu dengan materi genetik sel. Setelah terjadi mutasi, DNA virus akan bertambah banyak seiring pertambahan jumlah DNA sel yang sedang bereplikasi. Ini menyebabkan displasia (pertumbuhan sel yang tidak normal) jadi bertambah banyak dan tak terkendali sehingga menyebabkan kanker.
“Papova” berasal dari tiga nama yang sering dipelajari ( Papilloma, Polyoma, Vacoulating ). Yang akan dibahas termasuk virus Papilloma yaitu yang menyebabkan tumor jinak dan ganas pada banyak tipe mamalia. Virus ini merupakan salah satu dari virus DNA yang diketahui menyebabkan tumor alamiah pada tuan rumah aslinya. Virus Papilloma menyebabkan beberapa jenis kutil yang berbeda pada manusia, meliputi kutil kulit, kondiloma genital/ kondiloma akuminata(KA) atau kutil kelamin/ atau genital wart (di masyarakat dikenal sebagai jengger ayam dengan masa inkubasi :1-6 bulan rata-rata 3 bulan, tampak benjolan seperti jengger ayam di sekitar kemaluan dan anus serta kebanyakan tanpa keluhan ), dan papilloma larings. Papillomavirus sangat tropik terhadap sel-sel epitel kulit dan membran mukosa, tahap-tahap dalam siklus replikasi virus tergantung pada faktor-faktor spesifik yang terdapat dalam status diferensiasi berikutnya dari sel epitel. Ketergantungan kuat replikasi virus pada status diferensiasi sel inang ini, meyebabkan sulitnya perkembangbiakan Papillomavirus in vitro. Virus HPV berbentuk ikosahedral dengan ukuran 55 nm, memiliki 72 kapsomer dan 2 protein kapsid, yaitu L1 dan L2. Virus DNA ini dapat bersifat mutagen. Infeksi HPV telah dibuktikan menjadi penyebab lesi prakanker, kondiloma akuminatum, dan kanker. Terdapat 138 strain HPV yang sudah diidentifikasi, 30 di antaranya dapat ditularkan lewat hubungan seksual.
Infeksi HPV terjadi saat hubungan seksual pertama, biasanya pada masa awal remaja dan dewasa. Prevalensi tertinggi (sekitar 20%) ditemukan pada wanita usia kurang dari 25 tahun. Pada wanita usia 25-55 tahun dan masih aktif berhubungan seksual berisiko terkena kanker servik sekitar 5-10 persen. Meski fakta memperlihatkan, terjadi pengurangan risiko infeksi HPV seiring pertambahan usia, namun sebaliknya risiko infeksi menetap/persisten malah meningkat. Hal ini diduga karena seiring pertambahan usia terjadi perubahan anatomi (retraksi) dan histologi (metaplasia). Selama servik matang melebihi masa reproduktif seorang wanita, maka cervical ectropion digantikan melalui suatu proses squamous metaplasia, untuk membagi secara bertingkat epitel skuamosa. Epitel skuamosa bertingkat ini diperkirakan lebih protektif pada banyak orang melawan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Selain itu, hasil imunitas dari paparan infeksi sebelumnya, juga diduga sebagai biang dibalik penurunan insiden tersebut.
Keterbatasan Skrining
Kanker servik dapat dicegah dengan menghindari kausal utamanya, yaitu infeksi HPV. Penggunaan kondom secara benar, sangat efektif melawan penyakit menular seksual (PMS), seperti gonorrhea dan HIV yang menyebar melalui cairan tubuh, tapi tidak demikian halnya dengan PMS yang menyebar melalui kontak antar kulit kelamin seperti herpes dan HPV. Kondom memiliki keterbatasan melindungi area yang bisa menularkan HPV, seperti vulva, anus, perineal, dasar penis, dan skrotum. Penggunaan spermisida juga tak bisa membantu mencegah penyebaran HPV. Studi laboratorium memperlihatkan, spermisida gagal membunuh Human papillomavirus.
Saat ini pencegahan yang popular adalah dengan pap smear. Metode ini cukup efektif karena bisa mengurangi insiden kanker servik hingga 90 persen. Namun penggunaan tes ini dalam program skrining memerlukan biaya mahal dan makan waktu. Hal ini mencakup tes itu sendiri, kunjungan ulangan untuk mendiskusikan hasil, dan kemungkinan butuh pemeriksaan lebih detail, dan kolkoskopi lanjutan pada kasus hasil tes abnormal. Semua prosedur tersebut tentu saja juga bisa menimbulkan tekanan psikologis untuk wanita.
Metoda alternatif, seperti inspeksi visual dengan asam asetat (VIA) atau Lugol’s iodine (VILI), menawarkan skrining yang menjanjikan. Selain mudah dilakukan, hasilnya juga cepat dan efektif untuk mengidentifikasi perubahan prakanker servik. Selain itu juga ada tes yang lebih objektif, yakni HPV DNA. Tes ini lebih baik dibandingkan yang lainnya pada wanita usia 30 tahun ke atas.
Pencegahan Kanker Servik dengan Vaksin
Pengembangan vaksin profilaksis HPV menawarkan harapan baru untuk pencegahan primer dari kanker servik. Uji klinis dari 2 generasi pertama vaksin, satu untuk HPV 16 dan 18 sedang yang lainnya untuk tipe 16,18,6, dan 11, telah memperlihatkan proteksi yang cukup tinggi melawan insiden dan infeksi persisten. Bahkan dengan decision-science modeling diperkirakan, vaksin HPV 16/18 efektif mencegah infeksi HPV sekitar 98 persen yang akan mengurangi beban total kanker servik sekitar 51 persen selama beberapa dekade.
Menurut Anna Lissa B.Hamada, M.D, Medical Affairs Manager Vaksin HPV GlaxoSmithKline Indonesia, efikasi yang tinggi dalam mencegah abnormalitas sitologiHPV 16/18 tersebut, tentu juga akan mengurangi jumlah wanita yang menerima sitologi dan kolkospi tambahan. Selain bisa mengurangi biaya pengobatan medis yang terkait dengan program skrining servik, vaksin bisa mengurangi ansietas dan ketidaknyamanan wanita selama mengobati lesi abnormal.Penggunaan vaksin juga sesuai dengan konsep kesehatan umum, mencegah lebih baik dari mengobati. Betapa tidak ? Pengobatan abnormalitas servik bisa mengarah pada kelahiran prematur.
Setelah melewati riset yang cukup panjang, akhirnya pada 29 Juni 2006, U.S Food and Drug Administration (FDA) mengesahkan vaksin pertama dalam mencegah kanker servik dan penyakit lain yang terkait dengan HPV. Vaksin ini dikenal dengan sebutan quadrivalent vaccine, efektif melawan 4 tipe HPV(6,11,16, 18), tipe yang menyebabkan 70 % kanker servik dan 90% genital wart.
Pemberian vaksin yang dibuat dari non-infectious HPV-like particles (VLP) ini, direkomendasikan pada gadis usia 11-12 tahun, diberikan paling muda usia 9 tahun. Pemberian vaksin juga dianjurkan untuk wanita usia 13-26 tahun yang belum menerima atau menyelesaikan seri vaksinasi. Idealnya, vaksin diberikan sebelum debut seksual pertama.
Kendati vaksin ini cukup menjanjikan, tapi bukan berarti program skrining sama sekali dihentikan. Pasalnya, belum semua tipe HPV berhasil dihalangi, hanya pada 4 tipe. Selain itu, seorang perempuan belum tentu memperoleh manfaat penuh jika tidak menyelesaikan seri vaksinasi. Di samping itu, vaksin juga tidak akan memberi manfaat penuh bila si wanita pernah terinfeksi salah satu dari 4 tipe HPV tersebut sebelumnya. Namun yang jelas kehadiran vaksin ini merupakan suatu terobosan dalm pencegahan kanker servik (Arnita, 2008).
Satu penelitian menemukan 11.000 perempuan terdeteksi HPV-positif di AS dan sekitar 4000 orang meninggal karenanya. HPV menular dengan mudah melalui hubungan seks. Diperkirakan 75 persen orang yang aktif secara seksual terutama berusia 15-49 tahun di AS mengalami sedikitnya satu jenis infeksi HPV. Virus ini terdiri dari puluhan genotype, dan dapat menyerang berbagai bagian tubuh seperti jari dan tangan, telapak kaki, wajah, genital. Tipe Human papillomavirus cukup beragam. Dari 100 tipe HPV, hanya 30 di antaranya yang berisiko kanker serviks. Adapun tipe yang paling berisiko adalah HPV 16, 18, 31, dan 45. Sedangkan tipe 33, 35, 39, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68 merupakan tipe berisiko sedang. Dan yang berisiko rendah adalah tipe 6,11, 26, 42, 43, 44, 53, 54, 55, dan 56. Dari tipe-tipe ini, HPV tipe 16 dan 18 merupakan penyebab 70% kanker rahim yang terjadi, sedangkan HPV tipe 6 dan 11 merupakan penyebab 90% kandiloma akuminata jinak dan Papilloma laring pada anak-anak. Infeksi HPV memiliki keterkaitan dengan lebih dari 99% kasus kanker serviks di seluruh dunia(Tamms G., 2007).
E. METODOLOGI
Penelitian studi cross-sectional dilakukan pada Ege University Hospital Fakultas Kedokteran Kebidanan dan Kandungan Poliklinik antara 01 Maret 2008 dan 30 Mei 2008. Ege University Faculty of Medicine has been located in western Turkey.
Peserta: Penelitian ini dilakukan dengan 118 relawan yang aktif secara seksual dan berusia 25-61. Dua puluh dua perempuan dikeluarkan dari analisis ini karena mereka menyediakan informasi lengkap tentang pertanyaan pengujian Pap mereka sejarah atau faktor risiko kanker serviks. The sampel penelitian terdiri dari 92 perempuan.
Pengumpulan Data: Data dikumpulkan melalui formulir survei oleh wawancara yang dilakukan oleh para peneliti. Formulir ini terdiri dari 30 pertanyaan dan tiga bagian. Bagian pertama dari survei berfokus pada karakteristik sosio-demografis perempuan sedangkan bagian kedua berkonsentrasi pada keluarga mereka risiko dalam hal kanker dan kebiasaan mereka memiliki pap smear pengujian. Adapun bagian ketiga, informasi 14 pertanyaan Formulir ini termasuk yang terdiri dari tiga pertanyaan tentang pap smear pengujian dan pertanyaan sebelas risiko kanker serviks yang disusun untuk menentukan tingkat pengetahuan (Hoai Apakah et al, 2007; Özgül, 2007; Yaren et al, 2007..; Kaya 2009). Responden ditentukan apakah atau tidak mereka pikir prosedur dikenal pap smear pengujian dan risiko meningkatkan faktor risiko kanker serviks.

F. HASIL
Table 1. Pap Testing According to Socio-Demographic Characteristics

Demographic variable Pap (+) n=63 (%) Pap (-) n=29 (%) X2 p-value
Age : 26-33
34-41
42-49
50 11 (73,3)
14 (66.7)
21 (67.7)
17 (68.0) 4 (26,7)
7 (33.3)
10 (32.3)
18 (32.0) 0,206 0,977
Marital status
Married
Widowed
56 (69.1)
7 (63.6)
25 (30.9)
4 (36.4
0.136
0.713
Education Primary
Secondary
High school
Faculty
25 (61.0)
25 (61.0)
22 (84.6)
11 (64.7)
5 (62.5)
16 (39.0)
4 (15.4)
6 (35.3)
4.450

0.217

Place of residence
Village /town
County
Province
Large city

4 (40.0)
20 (60.6)
30 (78.9)
9 (81.8)

6 (60.0)
13 (39.4)
8 (21.1)
2 (18.2)

7.541

0.056
Income status
Low
Medium
High
6 (50.0)
53 (69.7)
4 (100)
6 (50.0)
23 (30.3)
0 (0,0)
3.795
0.150
History of cancer in the family
Yes
No

24 (85.7)
39 (60.9)

4 (14.3)
25 (39.1)

5.540

0.019
Information on Cervix Cancer
Yes
No

47 (85.5)
16 (43.2)

8 (14.5)
21 (56.8)

18.26

<0.001

Studi karakteristik kelompok
Dari perempuan yang mengambil bagian dalam penelitian ini, 33,7% berusia 42 49 dengan usia rata-rata 47. Ditetapkan bahwa 88% dari perempuan menikah, 38,0 % Melahirkan tiga kali atau lebih dan rata-rata jumlah anak-anak adalah 2,31 ± 0,97. 44,6% dari perempuan termasuk dalam ruang lingkup penelitian ini adalah lulusan sekolah Dasar dan 55,3% adalah ibu rumah tangga. Itu menentukan bahwa 53,3% wanita memiliki terpanjang pengalaman tinggal di sebuah provinsi dan kota besar dan yang 82,6% memiliki pendapatan menengah. Ketika risiko keluarga dalam hal kanker yang dianalisis, terlihat bahwa 30,4% dari perempuan memiliki sejarah kanker di keluarga mereka. 21,4% dari mereka dengan sejarah kanker di keluarga mereka telah terkena kanker juga dan 50,0% memiliki kerabat tingkat pertama dengan sejarah kanker.
Data demografis tentang perempuan telah dinilai dengan mengelompokkan mereka ke dalam dua kelompok menurut respon mereka telah diberikan kepada pertanyaan; "Apakah Anda pernah tes pap dalam hidup Anda? "63 dari 92 (68,5%) wanita yang berpartisipasi dalam penelitian ini telah menerima tes pap sebelum sedangkan 29 dari mereka (31,5%) memiliki pernah dilakukan. Perilaku Pengujian Pap Ketika kondisi perempuan sudah menerima sebuah smear uji sesuai dengan karakteristik sosio-demografis dianalisis pada Tabel 1; tingkat dari setelah menerima sebuah uji pap dipandang tinggi di kelompok usia 26-33, wanita menikah, lulusan sekolah menengah, penduduk besar kota, masyarakat berpenghasilan menengah dan tinggi, mereka dengan sejarah kanker dalam keluarga mereka dan mereka yang telah tau informasi tentang kanker serviks sebelumnya. Meskipun tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik telah ditentukan antara kondisi perempuan memiliki menerima smear sebuah menguji dan karakteristik demografi mereka seperti usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, tempat tinggal dan tingkat pendapatan (p> 0,05), secara statistik signifikan hubungan yang ditentukan antara memiliki menerima pap test dan memiliki sejarah kanker dalam keluarga atau yang telah sebelumnya informasi tentang kanker serviks (p <0,01).
Table 2. Cervical Cancer Knowledge Associated withPap Testing
Demographic variable Pap (+) n=63 (%) Pap (-) n=29 (%) X2 p-value
Sexually active women under the age of 18 should have pap
Testing
Yes
No



31 (56.4)
32 (86.5)



24 (43.6)
5 (13.5)




9.298



0.002
Getting regular Pap tests
No
Yes

44 (64.7)
18 (79.2)


24 (35.3)
5 (20.8)


1.719

0.190
Only women with risk factors should have pap testing
No
Yes


50 (87.7)
13 (37.1)



7 (12.3)
22 (62.9)



25.70


0.000
Having multiple sexual partners
No
Yes
1 (100)
62 (68.1)

0 (0.0)
29 (31.9)
0.465

0.495
Having a sexually transmitted disease
No
Yes
4 (36.4)
59 (72.8)

7 (63.6)
22 (27.2)
5.970
0.015
Cervix cancer could be prevented through vaccination
No
Yes) 23 (56.1)
40 (78.4 18 (43.9)
11 (21.6) 5.252 0.022
Going through menopause is influential on cervix cancer
No
Yes

35 (66.7)
28 (71.1)


18 (33.3)
11 (28.9)


0.345

0.557
Giving birth to many children
No
Yes
19 (47.5)
44 (84.6)

21 (52.5)
8 (15.4)
14.43
<0.001
Smoking
No
Yes
3 (23.1)
60 (75.9)
10 (76.9)
19 (24.1)
14.46
<0.001
Having sexual activity with a man who has had partners with
a cervical cancer case
No
Yes


19 (55.9)
44 (75.9)


15 (44.1)
14 (24.1)


3.964


0.046
Having sexual intercourse at an early age
No
Yes

27 (51.9)
36 (90.0)

25 (48.1)
4 (10.0)

15.19

<0.001
Abnormal vaginal bleeding
No
Yes
8 (72.7)
55 (67.9)
3 (27.3)
26 (32.1)
0.104
0.746
Vaginal infection
No
Yes
20 (58.8)
43 (74.1)
14 (41.2)
15 (25.9)
2.329
0.127
Bleeding during sexual intercourse
No
Yes
13 (61.9)
50 (70.4)
8 (38.1)
21 (29.6)
0.545
0.460

Pengetahuan Kanker Serviks
Tabel 2 memberikan informasi mengenai pengetahuan tentang risiko faktor untuk kanker serviks di kalangan wanita Turki yang memiliki Pap smear dan tidak. Jika dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki Pap smear, itu ditentukan bahwa mereka yang telah uji (86,5%) telah akurat pengetahuan tentang "wanita aktif seksual di bawah usia 18 harus memiliki tes pap "pada statistik signifikan tingkat (χ2 = 9,298, p <0,01). Meskipun wanita yang telah pap smear pengujian (79,2%) memiliki pengetahuan yang lebih akurat pada memiliki pap smear pengujian secara teratur daripada mereka yang melakukannya tidak, perbedaan yang signifikan secara statistik tidak diamati (Χ2 = 1,719, p> 0,05). 87,7% dari perempuan yang telah Pap pengujian BTA benar tentang fakta bahwa "tidak hanya wanita dengan faktor risiko tetapi juga semua wanita aktif seksual harus memiliki pengujian pap "dan secara statistik signifikan perbedaan ditentukan ketika mereka tingkat pengetahuan dibandingkan dengan para wanita yang tidak memiliki tes pap (Χ2 = 25,697, p <0,0001).
Ketika pengetahuan tentang perempuan yang telah dan melakukan tidak memiliki pap pengujian pada factor risiko kanker serviks dianalisis, persentase mereka yang telah tes pap dan menyadari faktor risiko adalah sebagai berikut; 68,1 % Diberitahu mengenai faktor risiko; "memiliki beberapa pasangan seksual ", 71,1% dari" melalui menopause ", 75,9% dari "merokok", 75,9% "memiliki aktivitas seksual dengan seorang pria yang telah memiliki mitra dengan kanker serviks ", 90,0 % Dari "Memiliki hubungan seksual pada usia dini", 67,9% dari "perdarahan abnormal vagina", 74,1% dari "berbau busuk vagina discharge ", 70,4% dari" Perdarahan selama hubungan seksual "dan 78,4% adalah informasi dari pencegahan vaksin untuk melawan kanker serviks.
Ketika pengetahuan tentang perempuan yang telah dan melakukan tidak memiliki pap pengujian pada faktor risiko kanker serviks dianalisis, sebuah perbedaan yang signifikan antara tingkat mereka pengetahuan tentang judul "Memiliki banyak pasangan seksual", "Going melalui menopause", "Abnormal vaginal pendarahan "," infeksi vagina "dan" Pendarahan selama hubungan seksual "tidak ditentukan (p> 0,05). Pengetahuan dari lima faktor risiko berikut semua terkait dengan pengujian Pap: Memiliki menular seksual penyakit (p <0,01), melahirkan banyak anak (p <0,001), Merokok (p <0,001), memiliki aktivitas seksual dengan seorang pria yang telah memiliki mitra dengan kanker serviks (p <0,05) dan melakukan hubungan seksual pada usia dini (p <0,001). Selain itu, juga mengamati bahwa wanita yang telah pap smear pengujian memiliki pengetahuan yang lebih akurat tentang pencegahan kanker serviks bentuk melalui vaksinasi daripada mereka yang tidak memiliki tes pap pada tingkat signifikan (P <0,05).

G. PEMBAHASAN
Perempuan termasuk dalam lingkup penelitian, 78% berada di kelompok usia 35-59 tahun yang adalah periode puncak pertama untuk diagnosis kanker serviks (Özgül 2007). Selama perempuan dalam kelompok ini adalah lebih banyak informasi dan sensitive tentang kanker leher rahim, awal diagnosis akan mungkin. Pap smear test adalah salah satu skrining yang paling penting alat untuk diagnosis dini kanker leher rahim (Elovainio et al, 1997;. WHO, 2007; Kaya 2009). Sedangkan tingkat perempuan memiliki pengujian smear sama dengan atau di atas 80% di negara maju (Welensek et al, 2002;. Carrasquillo & Pati, 2004; Sirovich & Welch, 2004; Coughlin et al. 2006), tingkat ini bervariasi antara 2,6-68% dalam mengembangkan negara (Farland, 2003;. Behbackt et al 2004; Imani et al, 2008).. Dalam studi ini, tingkat perempuan sudah melakukan uji pap smear merupakan batas atas dari negara-negara berkembang (68,5%). Angka ini dapat dianggap nilai yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan temuan penelitian lainnya yang dilakukan di Negara kita(Turki). Sebagai contoh, dalam studi berbasis masyarakat dilakukan oleh Sirin et al. (2006) 'di Izmir, tingkat perempuan yang sudah melakukan uji pap-smear bertekad untuk menjadi 14,6%. Namun demikian, dalam studi yang dilakukan oleh Akyüz et al. pada ginekologi poliklinik sebuah rumah sakit universitas di Ankara (2006), ditetapkan bahwa 51,1% dari perempuan sudah melakukan uji pap smear . Serupa dengan temuan penelitian kami, tingkat yang tinggi dapat ditemukan fakta bahwa Penelitian yang dilakukan di sebuah rumah sakit universitas di mana biasa dilakukan pengujian pap smear yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah perempuan yang sudah melakukan tes pap bila dibandingkan dengan populasi normal. Dalam banyak penelitian, maka ditentukan bahwa karakteristik sosiodemografi perempuan memiliki pengaruh untuk melakukan tes pap (Siahpush & Singh, 2002; Holdroy et al, 2004; Akyüz et al, 2006;.. Kaku et al, 2008.; Juni et al, 2009).. Dalam studi ini, karakteristik demografis perempuan seperti kelompok umur, status perkawinan, tingkat pendidikan atau status pendapatan tidak ditentukan sebagai faktor yang mempengaruhi untuk melakukan pengujian pap smear. Namun, ketika dilihat literatur, terlihat bahwa variabel demografis seperti usia kelompok perempuan al (Akyüz et, 006.; Juni et al., 2009) status perkawinan (Hoai lakukan et al, 2006.), Tingkat pendidikan, tempat tinggal (Nelson et al, 2003.; Coughlin dkk, 2006). Dan status pendapatan berpengaruh untuk melakukan tes pap (Kaku et al, 2008.). Pada studi dilakukan di negara-negara berkembang, hal ini menunjukkan bahwa status pendidikan perempuan sangat berpengaruh untuk melakukan pengujian pap. Sebagai contoh, di Kuwait, Sairafi Muhamed (2009) menemukan bahwa tingkat pendidikan satu-satunya faktor signifikan independen berhubungan dengan pengetahuan memadai dan sikap terhadap pencegahan kanker serviks. Dalam studi lain yang dilakukan di Turki untuk menganalisis pengaruh karakteristik demografi perempuan di saat merekasudah melakukan tes pap, itu dikarenakan bahwa tingkat pendidikan sudah meningkat, tingkat perempuan memiliki tes pap juga meningkat (Akyüz et al, 2006.). Dalam penelitian kami, hanya kelompok antara faktor usia dengan variabel demografis menunjukkan perbedaan yang signifikan. Fakta bahwa kelompok sampel terdiri dari populasi dengan karakteristik demografi yang sama yang berkunjung ke rumah sakit tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan. Ditetapkan bahwa 85,7% dari perempuan yang telah riwayat pribadi atau riwayat keluarga yang kanker dan dianggap punya resiko kanker serviks telah uji pap dan bahwa ada hubungan yang signifikan antara mempertimbangkan diri dengan risiko dan memiliki uji pap (P <0,01) (Tabel I). Dalam studi ini ditentukan bahwa wanita yang sadar bahwa dirinya punya resiko terkena kanker servikslah yang banyak melakukan tes pap smear secara berkesinambungan (Nuguyen et al, 2002; Wellensiek et al, 2002;.. Gichangi et al, 2003). Hal ini ditekankan dalam banyak penelitian yang mendapat informasi kanker serviks merupakan faktor berpengaruh pada peningkatan dalam tingkat memiliki tes pap (McAvoy dan Raza, 1991; Kottke et al, 1995; Dignan et al, 1996;.. Akyüz et al, 2006.; Yaren et al, 2008)
Dalam studi ini, tingkat pengetahuan pengujian pap prosedur dan faktor risiko kanker serviks perempuan yang memiliki dan tidak memiliki tes pap dianalisis. Dari para wanita yang memiliki tes pap, 86,5% memiliki pengetahuan tentang fakta bahwa wanita aktif seksual di bawah usia 18 tahun harus sudah melakukan tes pap dan 79% sadar bahwa apakah ada atau tidak ada faktor-faktor risiko, pengujian skrining pada interval tertentu diperlukan. Perbedaan yang signifikan tidak ditentukan antara tingkat pengetahuan thewomen yang telah dan mereka yang tidak memiliki tes pap tentang faktor-faktor meningkatkan risiko kanker seperti "Memiliki beberapa seksual dengan banyak pasangan "," Going melalui menopause "," Abnormal pendarahan vagina "," infeksi vagina "dan" pendarahan selama hubungan seksual "(p <0,05) (Tabel 2). Ini perbedaan yang signifikan mungkin telah mengakibatkan dari kenyataan poligami yang tidak disetujui menurut tradisional struktur masyarakat kita dan bahwa mereka dengan beberapa mitra mempertimbangkan masalah kesehatan vagina akan alam. Di sisi lain, akan melalui menopause, abnormal perdarahan vagina, infeksi vagina dan pendarahan selama hubungan seksual mungkin telah dianggap biasa perempuan masalah kesehatan dan tidak mungkin terkait dengan risiko kanker. Karena Turki perempuan sikap dan keyakinan tentang reproduksi kesehatan tidak dievaluasi dalam penelitian ini, komentar tersebut adalah proyeksi peneliti dalam kerangka sosial negara kita. Studi ini menunjukkan bahwa punyai pengetahuan tentang faktor risiko serviks seperti mempunyai Penyakit seksual yang menular (p <0,01), melahirkan banyak anak (p <0,001), merokok (p <0,001), memiliki aktivitas seksual dengan seorang pria yang telah berhubungan wanita yang mengidap kanker serviks (p <0,05) dan melakukan hubungan seksual pada usia dini (p <0,001) tersebut terkait dengan sudah melakukan pengujian Pap smear. Demikian pula, dalam studi dilakukan dengan wanita Vietnam, Hoai Do et al. (2006) menetapkan hubungan yang signifikan antara serviks kanker faktor risiko seperti memiliki banyak pasangan seksual (P <0,003), memiliki aktivitas seksual dengan orang yang memiliki memiliki mitra seksual (p <0,001), memiliki seksual Penyakit menular (p <0,001) dan pengujian pap memiliki. Selama bertahun-tahun, Human Papilloma Virus (HPV) infeksi telah dianggap sebagai menular seksual penyakit, namun telah dibawa ke agenda yang berkaitan dengan kanker serviks invasif dan bahwa hal itu menyebabkan hampir semua kasus kanker leher rahim (2007 WHO; Kaya, 2009). Karena risiko infeksi HPV meningkat sejajar dengan hubungan seksual usia awal, sebuah implementasi awal sebuah vaksin, efektif aman terhadap infeksi adalah efektif metode pencegahan (Markman 2007; Kaya 2009). Dalam penelitian ini, penentuan yang signifikan hubungan antara pengetahuan metode baru mencegah kanker serviks dan memiliki uji smear (p <0,001) adalah penemuan yang berharga. Kesimpulan ini mungkin dipengaruhi oleh kampanye kesadaran terhadap kanker serviks yang diselenggarakan di negara kita sejak tahun 2007 serta upaya pendidikan kesehatan dari petugas kesehatan bekerja di ginekologi polindes rumah sakit universitas dan AÇSAP pusat. Dalam conclusion para wanita yang diterapkan pada poliklinik ginekologi dari fakultas kedokteran universitas rumah sakit dimasukkan dalam ruang lingkup penelitian (N = 92). Karena wanita yang memiliki keluhan tentang kesehatan mereka umumnya berlaku untuk polindes, para wanita telah kepekaan prasyarat tentang ginekologi penyakit. Oleh karena itu, perempuan tingkat pengetahuan kanker serviks dan tingkat mereka tes pap memiliki (68,5 %) Berada pada tingkat yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan bidang tertentu studi yang dilakukan di negara kita. Kondisi memiliki pengujian pap dipengaruhi oleh kelompok usia mereka, memiliki sejarah kanker dalam keluarga mereka dan pengetahuan yang mempunyai kanker serviks di muka (p <0,01). Penelitian ini sekali lagi menunjukkan bahwa memiliki pengetahuan berpengaruh pada kebiasaan memiliki tes pap. Mengambil kesimpulan ini menjadi pertimbangan, sangat penting bahwa informasi jasa ditujukan pada seluruh masyarakat, khususnya perempuan harus menyebar luas dengan partisipasi kesehatan pekerja. Pengetahuan tentang perempuan dalam lingkup penelitian tentang faktor risiko kanker serviks (Memiliki penyakit menular seksual, melahirkan banyak anak, merokok, memiliki aktivitas seksual dengan orang yang telah memiliki mitra dengan kanker serviks dan melakukan hubungan seksual pada usia dini) ditemukan dikaitkan dengan kondisi mereka memiliki tes pap. Ini Penelitian dilakukan dengan kelompok sampel yang terbatas dalam rangka untuk menentukan kondisi perempuan memiliki tes pap dan tingkat pengetahuan tentang kanker serviks. Ini akan bermanfaat rencana studi yang akan dilakukan dengan kelompok sampel yang lebih besar dalam menentukan kepercayaan tradisional dan sikap mengenai kanker leher rahim dan pengujian pap memiliki.

H. SARAN
- Bagi wanita yang mempunyai faktor risiko kanker serviks sebaik nya lebih dini mengetahui kondisi kesehatan Rahimnya.
- Bagi perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual, lakukan deteksi dini secara rutin.
- Deteksi dini dapat mendeteksi sel abnormal, lesi pra-kanker dan kanker serviks namun tidak dapat mencegah terjadinya infeksi HPV.
- Kanker serviks yang ditemukan pada stadium dini dan diobati dengan cepat dan tepat dapat disembuhkan, oleh sebab itu lakukan deteksi dini secara berkala.
- Resiko berkembangnya infeksi menjadi kanker serviks adalah 3-10 kali lebih tinggi pada perempuan yang tidak menjalankan deteksi dini secara teratur.
- Pap smear dapat dilakukan pada saat pemeriksaan dalam rutin. Pap smear merupakan metode skrining yang sudah dikenal luas.
- Untuk pencegahan dini lakukanlah Vaksinasi, Pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibody) dari sistem imun didalam tubuh.Vaksinasi merupakan pencegahan Primer.
- Rekomendasi pemberian vaksin pada Perempuan berusia 10 – 55 tahun Jadwal pemberian vaksin : Jadwal pemberian bulan 0, 1 atau 2, dan 6. Contoh : Penyuntikan 1 : januari ,
Penyuntikan 2 : Februari/Maret
Penyuntikan 3 : Juli


I. KESIMPULAN
- Kondisi pengujian smear perempuan adalah dipengaruhi oleh kelompok usia mereka, memiliki sejarah kanker dalam keluarga mereka dan memiliki pengetahuan tentang serviks kanker (p <0,01).
- Penelitian ini sekali lagi menunjukkan bahwa pengetahuan terhadap kanker serviks berpengaruh terhadap kebiasaan melakukan tes pap.
- Mengambil kesimpulan ini menjadi pertimbangan, sangat penting bahwa informasi jasa ditujukan pada seluruh masyarakat, khususnya perempuan, harus menjadi luas dengan partisipasi kesehatan pekerja.
- Menikah / hubungan seksual pada usia muda, Sering melahirkan, Merokok, Berganti-ganti pasangan seksual, Infeksi menular seksual.












Daptar Pustaka

Arnita, 2008, Lindungi Leher Rahim dari Kanker,
http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=327
Barr E, Tamms G., 2007, Quadrivalent human papillomavirus vaccine, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17682997?dopt=Ab
Baseman JG et al. J Clin Virol 2005; 32(S): 16-24
Bosch FX et al. J. Clin Pathol 2002; 55: 244-65
De Jong A et al. Cancer Reasearch 2004; 64: 5449-55
Moscicki AB. Journal of Adol Health 2005; 37: S3-S9.
Munoz et al Int J Cancer 2004; 111:278-85
National Cancer Institute, What you need to know about cervical cancer booklet. September 2008. Page 7
Stanley M et al. Vaccine 2006: 24(S3): 106-13
Wallboomers JH et al. Pathol 1999; 189: 12-9
Winer RL et al. N Engl J Med 2006; 354(25): 2645-54
Winer RL et al. Am J Epidemiol 2003: 157(3): 218-26

Rabu, 02 Februari 2011

OBAT DIURETIK

BAB I
PENDAHULUAN

Ginjal merupakan salah satu alat ekskresi.

Anatomi ginjal :
1. Kortex, merupakan lapisan terluar, banyak terdapat unsur terkecil dari alat ekskresi yang disebut nefron.
2. Nefron terdiri dari :
a. Glomerulus
b. Kapsula Bowman
c. Tubulus proksimalis
d. Loop of Henle
e. Tubulus distalis
3. Medula, pada bagian ini ditemukan banyak tubulus pengumpul, yang nantinya bermuara pada rongga ginjal
4. Ureter, saluran yang keluar dari ginjal, berfungsi menyalurkan urin ke kandung kemih
5. Kandung kemih sebagai tempat penyimpan urin sementara
6. Uretra, saluran pendek yang keluar dari kantung kemih, berfungsi mengeluarkan urin keluar tubuh

Tahapan pembentukan urin :
1. Filtrasi
Penyaringan ampas metabolisme yang terjadi pada glomerulus yang hasilnya disebut filtrat glomerulus ( urin primer ) akan masuk ke Kapsula Bowman
2. Reabsorpsi
Penyerapan kembali zat-zat yang masih dibutuhkan yang terdapat pada filtrat glomerulus seperti asam amino dan glukosa. Peristiwa reabsorpsi terjadi pada tubulus proksimalis sampai Loop of Henle, hasilnya disebut filtrat tubulus ( urin sekunder )
3. Augmentasi
Pengeluaran zat yang tidak berguna dan tidak dapat disimpan dalam tubuh. Peristiwa ini terjadi pada tubulus distalis. Zat yang dikeluarkan adalah asam urat, sisa obat, hormon. Hasilnya adalah urin.


Volume urin normal adalah berkisar 900 – 2100 ml/hari, namun sangat dipengaruhi oleh:
1. Suhu udara, bila suhu udara dingin, pengeluaran urin meningkat. Bila suhu udara panas, pengeluaran keringat meningkat dan pengeluaran urin menurun
2. ADH ( antidiuretik hormon ) yang berperan dalam penyerapan air, bila kekurangan hormon ADH maka volume urin meningkat sampai 20 – 30 kali lipat.
3. Emosi
4. Kopi dan alkohol akan meningkatkan volume urin
5. Banyaknya air yang diminum

Diuretik adalah :
1. Senyawa yang dapat meningkatkan volume urin
2. Meningkatkan ekskresi Na+, Cl- atau HCO3-
3. Menurunkan reabsorpsi di tubulus renalis dengan proses pengangkutan aktif

Guna diuretik adalah :
1. Mengurangi sembab ( edema ) yang disebabkan oleh meningkatnya cairan ekstrasel karena :
a. Gagal jantung kongestif
b. Gagal ginjal
c. Oligourik ( volume urin yang sangat sedikit karena kerusakan ginjal yang sangat berat )
d. Sirosis hepatik
e. Keracunan kehamilan ( eclampsia )
f. Glaukoma
g. Hiperkalsemia
h. Diabetes insipidus
i. Penggunaan steroid dan esterogen dalam jangka panjang
2. Penunjang pengobatan hipertensi

Berdasarkan efeknya, diuretik dibagi menjadi 3 macam :
1. Meningkatkan ekskresi air dan elektrolit tetap
2. Meningkatkan ekskresi Na+ ( natriuretik )
3. Meningkatkan ekskresi Na+ dan Cl- ( saluretik )


Pembagian obat diuretik :
1. Diuretik osmotik
2. Diuretik pembentuk asam
3. Diuretik merkuri organik
4. Diuretik penghambat karbonik anhidrase
5. Diuretik turunan tiazid
6. Diuretik hemat kalium
7. Diuretik loop

BAB II
DIURETIK

A. DIURETIK OSMOTIK
Diuretik osmotik adalah senyawa yang dapat meningkatkan ekskresi urin dengan mekanisme berdasarkan perbedaan tekanan osmosa.

Ciri – ciri diuretik osmotik :
1. Mempunyai berat molekul yang rendah
2. Tidak mengalami metabolisme
3. Secara pasif disaring melalui Kapsula Bowman
4. Tidak direabsorpsi oleh tubulus renalis
5. Termasuk natriuretik

MEKANISME KERJA
Dengan dosis besar atau larutan pekat akan menarik air dan elektrolit ke tubulus renalis yang disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan osmosa sehingga terjadi diuresis.

EFEK SAMPING
1. Gangguan keseimbangan elektrolit
2. Dehidrasi
3. Mata kabur
4. Nyeri kepala
5. Takikardia

CONTOH : manitol, glukosa, sukrosa dan urea.
Manitol adalh diuretik osmotik yang digunakan untuk mengatasi berbagai keadaan sembab, bila turunan tiazid sudah tidak efektif lagi. Digunakan juga sebagai bahan diagnostik untuk mengukur kecepatan filtrasi glomerulus.

B. DIURETIK PEMBENTUK ASAM
Diuretik pembentuk asam adalah senyawa anorganik yang dapat menyebabkan urin bersifat asam dan mempunyai efek diuresis yang lemah.

EFEK SAMPING
1. Asidosis hiperkloremik sistemik
2. Iritasi lambung
3. Penurunan nafsu makan
4. Mual
5. Ketidaknormalan fungsi ginjal
Contoh : amonium klorida, amonium nitrat, kalsium klorida

MEKANISME KERJA

Kelebihan Cl- dalam urin akan mengikat ion Na+ membentuk garam NaCl dan kemudian diekskresikan bersama dengan sejumlah ekivalen air sehingga terjadilah diuresis.
Penggunaan NH4Cl dalam sediaan tunggal kurang efektif karena setelah 1-2 hari, ginjal mengadakan komponsasi dengan memproduksi amonia, yang akan menetralkan kelebihan asam membentuk NH4 +, yang segera berinteraksi dengan ion Cl- membentuk NH4Cl dan kemudian diekskresikan, sehingga efek diuresisnya akan menurun dengan drastis. Biasanya dikombinasi dengan diuretik lain misalnya merkuri organik.

C. DIURETIK MERKURI ORGANIK
Diuretik merkuri organik termasuk dalam golongan saluretik karena dapat menghambat reabsorpsi ion Na+ , Cl- dan air. Absorpsi di saluran cerna rendah dengan efek samping iritasi lambung, maka biasa digunakan secara parenteral. Sekarang sudah jarang digunakan.

Keuntungan diuretik merkuri organik dibanding diuretik lain :
1. Tidak menimbulkan hipokalemia
2. Tidak mengubah keseimbangan elektrolit
3. Tidak mempengaruhi metabolisme karbohidrat dan asam urat
Efek samping :
1. Iritasi lambung
2. Nekrosis jaringan tempat injeksi
MEKANISME KERJA
Ion merkuri akan berikatan dengan gugus SH pada enzim Na,K-dependent ATP-ase yang berperan pada produksi energi yang digunakan untuk reabsorpsi elektrolit dalam membran tubulus sehingga enzim menjadi tidak aktif. Akibatnya reabsorpsi ion Na+ dan Cl- di tubulus menurun, kemudian dikeluarkan bersama-sama dengan sejumlah ekivalen air sehingga terjadi diuresis.

HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS

Karakteristik :
1. Terdiri dari 3 atom C
2. Satu atom Hg pada salah satu ujung rantai yang mengikat gugus hidrofil X

R = gugus aromatik, heterosiklik atau alisiklik yang terikat pada rantai propil melalui gugus karbamoil.
Gugus R sangat menentukan distribusi dan kecepatan ekskresi diuretik.
R’ = biasanya gugus metil, dapat juga etil, secara umum pengaruhnya kecil
X = substituen yag bersifat hidrofil, biasanya teofilin yang dapat menurunkan toksisitas obat, mengurangi efek iritasi setempat, meningkatkan kecepatan absorpsi, mempunyai efek diuretik ( terjadi potensiasi ).
Bila X diganti gugus tiol, seperti asam merkaptoasetat atau tiosorbitol, dapat mengurangi toksisitas terhadap jantung dan efek iritasi setempat.

D. DIURETIK PENGHAMBAT KARBONIK ANHIDRASE
Enzim karbonik anhidrase adalah enzim yang berada dalam epitel tubulus ginjal dan dalam sel darah merah. Enzim ini mengkatalis reaksi H2O dan CO2 menjadi H2CO3. Tanpa adanya enzim ini reaksi akan bergeser ke kiri. Dalam sel darah merah, reaksi ini berperan penting pada pengangkutan CO2 dari jaringan ke paru-paru. Dalam ginjal, H+ ditukar dengan ion Na+ yang direabsorpsi. Bila zat penghambat karbonik anhidrase menghalangi enzim tersebut di dalam ginjal, pembentukan H+ akan menurun sehingga ion Na+ tidak dapat ditukar. Na+ akan tetap berada di tubulus sehingga akan dikeluarkan bersama air. Maka terjadilah diuresis.

Senyawa penghambat karbonik anhidrase adalah saluretik yang digunakan untuk pengobatan sembab yang ringan dan sedang sebelum ditemukan turunan tiazid.
Setelah ditemukannya turunan tiazid, hanya digunakan untuk pengobatan penunjang pada glaukoma.

EFEK SAMPING
1. Gangguan saluran cerna
2. Menurunnya nafsu makan
3. Asidosis sistemik
4. Alkalinisasi urin
5. Hipokalemia
Asidosis sitemik dan alkalinisasi urine dapat mengganggu farmakokinetik obat lain.

MEKANISME KERJA

Ion H+ sebagai pengganti ion Na+ dan K+ yang direabsorpsi dalam tubulus renalis.

Bila enzim karbonik anhidrase dihambat maka produksi asam karbonat menurun sehingga :
1. Jumlah H+ menurun
2. Reabsorpsi Na+ menurun
3. Volume urin meningkat sehingga terjadi diuresis.

Hipotesis mekanisme kerja tingkat molekul :
1. Gugus sulfamil mirip dengan H2CO3 sehingga dapat menghambat enzim karbonik anhidrase

2. Yonezawa mengemukakan bahwa adanya atom nitrogen pada gugus sulfamil yang bersifat sangat nukleofil bereaksi dengan karbonik anhidrase sehingga terjadi penghambatan kerja enzim
HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS


1. Gugus sulfamil bebas merupakan gugus induk yang bila dimodifikasi akan menurunkan aktivitas
2. Penambahan gugus metil ( metazolamid ) akan meningkatkan aktivitas dan lama kerja obat karena kelarutan dalam lemak meningkat yang akan meningkatkan reabsorpsi dan memperbesar afinitas dengan enzim.
3. Modifikasi lain asetasolamid akan menurunkan aktivitas. Perpanjangan gugus alkil pada rantai asetil akan meningkatkan toksisitas.

E. DIURETIK TURUNAN TIAZID
Diuretik turunan tiazid adalah saluretik yang :
1. Menekan reabsorpsi ion Na+ , Cl- dan air
2. Meningkatkan ekskresi K+ , Mg2+ dan HCO3-
3. Menurunkan ekskresi asam urat

Digunakan untuk pengobatan sembab dalam keadaan :
1. Dekompensasi jantung
2. Penunjang pengobatan hipertensi ( mengurangi volume darah )
3. Relaksasi otot polos arteriola

Efek samping :
1. Hipokalemia
2. Gangguan keseimbangan elektrolit
3. Menimbulkan penyakit pirai akut
MEKANISME KERJA
1. Adanya gugus sulfamil bebas akan menghambat enzim karbonik anhidrase
2. Adanya penghambatan proses pengangkutan aktif ion klorida dan reabsorpsi pada loop of Henle
3. Menghambat enzim karbonik anhidrase pada tubuls distalis relatif lemah

HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS


Modifikasi struktur turunan tiazid yang meningkatkan aktivitas diuretik adalah :
1. Posisi 1 adalah CO2 atau SO2. Aktivitas SO2 lebih besar
2. Posisi 2 biasanya gugus metil
3. Posisi 3 adalah substituen lipofil ( CH2Cl, CH2SCH2CF3 , CH2-C6H6 , CH2SCH2-C6H6 )
4. Reduksi ikatan rangkap C3-C4 meningkatkan aktivitas ± 10 kali

Modifikasi struktur turunan tiazid yang menurunkan aktivitas diuretik adalah :
1. Adanya gugus alkil pada posisi 4, 5 atau 8
2. Mono dan disubtitusi gugus sulfamil pada posisi 7

Adanya Cl pada posisi 6 sangat penting, maka :
1. Penghilangan Cl akan menghilangkan aktivitas
2. Penggantian Cl dengan CF3 akan memperpanjang kerja obat
Gugus sulfamil pada posisi 1 dapat diganti dengan gugus elektronegatif lain, membentuk gugus induk baru yang dinamakan diuretik seperti tiazid ( thiazid-like diuretic ) seperti turunan salisilanilid ( xipamid ), turunan benzhidrazid ( klorpamid dan indapamid ), turunan ptalimidin ( klortalidon )


F. DIURETIK HEMAT KALIUM
Diuretik hemat kalium adalah natriuretik ringan.
Efeknya :
1. Menurunkan sekresi K+ dan H+
2. Pada tubulus distalis memblok pertukaran ion Na+ dengan ion H+ dan K+
3. Retensi ion K+
4. Meningkatkan sekresi ion Na+ dan air
Efek diuretik lemah biasanya dikombinasi dengan turunan tiazid. Kombinasi ini menguntungkan karena mengurangi sekresi K+ sehingga menurunkan terjadinya hipokalemia.

Efek samping :
1. Hiperkalemia
2. Memperberat penyakit diabetes dan pirai
3. Gangguan saluran cerna

MEKANISME KERJA
Bekerja di saluran pengumpul dengan :
1. Mengubah kekuatan pasif yang mengontrol pergerakan ion
2. Memblok reabsorpsi ion Na+ dan ekskresi ion K+
3. Meningkatkan ekskresi Na+ dan Cl- dalam urin

Diuretik hemat kalium dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :
1. Diuretik dengan efek langsung

2. Antagonis aldosteron

Aldosteron adalah mineralokortikoid yang dikeluarkan oleh kortex adrenalis yang sangat aktif menahan elektrolit, meningkatkan reabsorpsi ion Na+ dan Cl- serta ekskresi ion K+ dalam saluran pengumpul.
Spironolakton adalah senyawa yang mempunyai struktur mirip dengan aldosteron yang bekerja sebagai antagonis melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi reseptor pada saluran pengumpul sehingga meningkatkan ekskresi ion Na+ dan Cl- serta retensi ion K+

G. DIURETIK LOOP
Diuretik loop merupakan senyawa saluretik sangat kuat dibandingkan diuretik golongan lain. Turunan ini memblok pengangkutan aktif NaCl pada loop of Henle sehingga menurunkan reabsorpsi NaCl sehingga meningkatkan ekskresi NaCl lebih dari 25 %.

MEKANISME KERJA
Mekanisme kerja tingkat molekul belum diketahui secara pasti. Ada 3 kemungkinan mekanisme kerja yaitu :
1. Menghambat enzim Na+ K+ATP-ase
2. Menghambat siklik AMP
3. Menghambat glikolisis
Efek samping :
1. Hiperurisemia
2. Hiperglikemi
3. Hipotensi
4. Hipokalemia
5. Hipokloremik alkalosis
6. Kelainan hematologis
7. Dehidrasi
Biasanya digunakan untuk pengobatan sembab pada :
1. Paru akut
2. Kelainan jantung, ginjal atau hati
3. Keracunan kehamilan
4. Sembab otak
5. Hipertensi ringan
Pada hipertensi sedang dan berat dikombinasi dengan obat antihipertensi.
Struktur kimia diuretik loop dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :
1. Turunan asam fenoksiasetat
Asam etakrinat berinteraksi dengan gugus sulfhidril enzim yang bertanggung jawab pada proses reabsorpsi Na+ di tubulus renalis. Yang berperan pada ikatan tersebut adalah gugus α,β – ikatan rangkap tak jenuh.

HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS
Aktivitas optimal bila :
a. Gugus asam oksiasetat terletak pada posisi 1 cincin benzen
b. Gugus akriloil sulfhidril terletak pada posisi para dari gugus asam oksiasetat
c. Gugus aktivasi CH3 atau Cl pada posisi 3 atau posisi 2 dan 3
d. Penambahan 2 sampai 4 atom C pada posisi α dari karbonil pada gugus akriloil
e. Atom H terletak pada ujung –C=C- dari gugus akriloil.
Aktivitas meningkat bila :
a. Adanya gugus etil pada atom C – β aktivitasnya kan maksimal
b. Adanya gugus Cl pada posisi orto cincin aromatik lebih besar aktivitasnya daripada posisi meta.
c. Disubstitusi Cl atau metil pada posisi orto dan meta akan lebih meningkatkan aktivitas
Aktivitas menurun bila :
a. Gugus oksiasetat pada posisi orto atau meta
b. Reduksi gugus α,β – keton tak jenuh
c. Substitusi H pada atom Cα dengan gugus alkil
d. Atom C β mempunyai jumlah atom C lebih dari 2
e. Adanya gugus pendorong elektron kuat pada cincin aromatik ( gugus amino atau alkoksi ), aktivitas menurun drastis


2. Turunan sulfamoil benzoat
Terbagi menjadi 2 golongan :
a. Turunan asam 5-sulfamoil-2-aminobenzoat ( furosemid )
b. Turunan asam 5-sulfamoil-3-aminobenzoat ( bumetanid )


HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS

Aktivitas optimal bila :
1. Posisi 1 : gugus karboksilat yang bersifat asam
2. Posisi 5 : gugus sulfamoil
3. Posisi 4 : gugus penarik elektron terutama Cl atau CF3
Akan terjadi penurunan aktivitas bila diganti dengan gugus fenoksi (C6H5 – O -), alkoksi, anilino (C6H5 – NH -), benzil, benzoil, atau C6H5 – S -
4. Pada turunan asam 5-sulfamoil-2-aminobenzoat, gugus 2-amino relatif terbatas, hanya gugus furfuril, benzil dan tienilmetil
5. Pada turunan asam 5-sulfamoil-3-aminobenzoat, gugus 3-amino tidak mempengaruhi aktivitas.

ANTIBIOTIKA

BAB I
PENDAHULUAN

Antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme hidup, termasuk turunan senyawa dan struktur analognya yang dibuat secara sintetik, dan dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan satu atau lebih mikroorganisme.

Sumber antibiotika :
1. Actinomycetales ( 58% )
2. Jamur ( 18% )
3. Tanaman tinggi ( 12% )
4. Eubacteriales ( 7% )
5. Binatang ( 2% )
6. Pseudomonales ( 1% )
7. Ganggang atau lumut ( 1% )

Mekanisme kerja antimikroba :
1. Penghambatan sintesis dinding sel
Contohnya : basitrasin, sefalosporin, penisilin, sikloserin, vankomisin
2. Perubahan permeabilitas membran sel
Contohnya : amfoterisin B, polien, polimiksin
3. Penghambatan sintesis protein
Contohnya : aminoglikosida, tetrasiklin, makrolida, kloramfenikol, linkomisin
4. Penghambatan sintesis asam nukleat
Contohnya : rifampisin, mitomisin, aktinomisin, griseofulvin

Berdasarkan kimianya strukturnya, terbagi menjadi 11 golongan yaitu :
1. Turunan beta laktam ( penisilin, sefalosporin, beta laktam nonklasik )
2. Turunan amfenikol
3. Turunan tertrasiklin
4. Turunan aminoglikosida
5. Turunan makrolida
6. Turunan polipeptida
7. Turunan linkosamida
8. Turunan polien ( antijamur )
9. Turunan ansamisin ( antimikobakterium )
10. Turunan antrasiklin ( antikanker )
11. Fosfomisin

Dari efek farmakologinya dibagi menjadi :
1. Antibakteri ( semua golongan antibiotika kecuali turunan antrasiklin )
2. Antimikobakterium ( streptomisin, rifampisin, sikloserin, viomisin, kapreomisin )
3. Antijamur ( griseofulvin, turunan polien )
4. Antiamuba ( eritromisin, tetrasiklin, oksitetrasiklin, paramomisin )
5. Antileismania ( amfoterisin, griseofulvin, paramomisin )
6. Antikanker ( mitomisin, daktinomisin, daunorubisin, doksorubisin, pilkamisin, bleomisin, mitramisin )

Untuk tugas ini dipilih antibiotika turunan β – laktam, makrolida dan tetrasiklin.

BAB II
TURUNAN β - LAKTAM

MEKANISME KERJA

Menghambat biosintesa peptidoglikan pada dinding sel mikroorganisme sehingga menyebabkan hilangnya kekuatan dan kekakuan dinding sel sehingga sel mengalami kematian. Β – laktam akan mengganggu tahap akhir sintesa dinding sel ( cross linking ). Β – laktam akan mengikat enzim transpeptidase sehingga mencegah pembentukan dinding sel.

Untuk menghindari kerusakan dinding sel, bakteri gram negatif membentuk enzim β – laktamase yang dapat memecah cincin β – laktam sehingga inaktif.

Aktif pada bakteri yang aktif membelah, sehingga tidak rasional bila dikombinasi dengan obat yang bersifat bakteriostatik.
Spektrum luas, bersifat bakterisidal

Turunan β – laktam dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :
1. Turunan penisilin
2. Turunan sefalosporin
3. Turunan β – laktam non klasik

TURUNAN PENISILIN

Ditemukan pertama kali oleh Alexander Fleming tahun 1929.
Diisolasi dari Penicillium notatum, P. chrysogenum

Secara klinik, kestabilan penisilin dipengaruhi oleh :
a. asam lambung
b. enzim penisilinase
i. β – laktamase yang memecah cincin β – laktam
ii. asilase atau amidase yang merusak gugus asil sehingga membentuk 6-APA yang aktivitas antibakterinya rendah.


HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS TURUNAN PENISILIN

Struktur umum A Struktur umum B

a. Modifikasi pada rantai samping amino ( R )
i. adanya gugus penarik elektron ( gugus fenoksi pada Penisilin V dan fenetisilin ) yang mencegah penataulangan penisilin dalam suasana asam akan menyebabkan tahan asam
ii. adanya gugus meruah ( bulky ) misalnya cincin aromatik akan menimbulkan halangan ruang sehingga tidak dapat diserang oleh enzim β – laktamase ( metisilin )
iii. adanya gugus NH2 akan memperbesar penembusan obat melalui pori saluran protein membran terluar bakteri gram negatif ( ampisilin dan amoksisilin )
iv. adanya gugus asidik ( COOH, SO3H, -NHCO- ) pada rantai sampingmenyebabkan aktivitas terhadap gram negatif dan Pseudomonas aeroginosa meningkat ( karbenisilin, karindasilin, sulbenisilin, tikarsilin )

b. Modifikasi pada R’ akan membentuk pra-obat dengan cara :
i. Membentuk garam
ii. Menutupi gugus amino bebas seperti pada ampisilin
iii. Membentuk gugus amida yang akan diuraikan kembali pada in vivo ( piperasilin, azlosilin, mezlosilin, apalsilin )

c. Modifikasi pada R” dengan membentuk ester pada gugus karboksil yang terikat pada C3 ( bakampisilin, pivampisilin, talampisilin )



R
R’ R” Nama Generik
- - Penisilin V ( A )
- - Fenetisilin ( A )
- - Metisilin ( A )
- - Ampisilin ( A )
- - Amoksisilin ( A )
- - Karbenisilin ( A )
- - Karindasilin ( A )
- - Sulbenisilin ( A )
- - Tikarsilin ( A )
- H Pivampisilin ( B )
- H Bakampisilin ( B )
R = H
R = 6-Cl
R = 2, 6 – diCl
R = 2-Cl , 6-F Oksasilin
Kloksasilin
Dikloksasilin
Flukloksasilin
TURUNAN SEFALOSPORIN

Diisolasi dari jamur Cephalosporium acremonium
Terdiri dari 4 generasi :
a. sefalosporin generasi pertama ( antara tahun 1960 – 1970 )
contoh : Sefadroksil, sefaleksin, sefradin
b. sefalosporin generasi kedua ( akhir tahun 1970 )
contoh : sefuroksim, sefamandol
c. sefalosporin generasi ketiga ( tahun 1980 )
contoh : sefotaksim, seftriakson, sefiksim
d. sefalosporin generasi keempat ( tahun 1995 )
contoh : Sefepim, sefpirom

STRUKTUR SEFALOSPORIN

HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS

A. SEFALOSPORIN KLASIK
i. Modifikasi pada C3 akan merubah sifat kimia fisika sefalosporin.
Adanya gugus pendorong elektron akan meningkatkan aktivitas antibakteri
ii. Modifikasi pada C7 akan merubah spektrum aktivitas sefalosporin.
Adanya gugus metoksi akan meningkatkan ketahanan terhadap β-laktamase.
iii. Penggantian S dengan O akan memperluas spektrum aktivitas antibakteri.

Penggantian gugus C3 ( R’ )
i. Asetiloksimetil - CH2OCOCH3 akan dihidrolisa sehingga efek antibakteri menjadi lebih rendah ( sefalotin, sefotaksim, sefasetril, sefapirin )
ii. Karmamoiloksimetil – CH2OCONH2 stabil terhadap metabolisme sehingga kadar obat di dalam darah akan lebih tinggi dan rekoveri urin baik. ( sefoksitin, sefuroksim )
iii. Metil – CH3 akan menghambat metabolisme
iv. Metilpiridium ( sefpimisol, sefsulodin, seftazidim, sefaloridin )
 Keuntungan farmakokinetik :
 Peningkatan kelarutan dalam air
 Peningkatan stabilitas metabolik
 Penurunan ikatan obat protein
 Mengurangi rasa nyeri saat injeksi
v. Nukleofil sulfur ( sefamandol, sefmenoksim, sefmetazol, sefoperazon, sefotetan, sefotiam, sefiramid )
 Aktivitas terhadap gram negatif meningkat
 Kadar obat dalam darah meningkat
 Lama kerja obat makin panjang
 Aktivitas terhadap gram positif menurun dibanding 3-metil atau 3-asetiloksimetil

Penggantian gugus C7 ( R )
Penambahan gugus akan meningkatkan ketahanan terhadap β-laktamase dan meningkatkan aktivitas terhadap gram negatif bila berupa gugus :
i. Fenilglisin terasetilasi (sefamandol, moksalaktam )
ii. Asetilamino heterosiklik ( sefmenoksim, sefodizim, sefotaksim, seftazidim, seftizoksim, seftriakson )
iii. Asetil mono dan disubstitusi ( sefalotin, sefapirin )

B. PRA SEFALOSPORIN
Berupa pra obat sefalosporin klasik yang akan terhidrolisa dan melepaskan senyawa aktif
Contoh : sefamandol nafat, sefuroksim aksetil
C. SEFAMISIN
Berupa gugus 7-α metoksi yang dapat meningkatkan ketahanan terhadap β-laktamase
Contoh : sefbuperazon, sefmetazol, sefotetan, sefoksitin
D. OKSASEFEM
Penggantian atom S dengan O pada cincin dihidrotiazin yang akan meningkatkan aktivitas antibakteri
Contoh : moksalaktam

R R’ R” Nama Generik
H Sefalotin ( 1 )
H Sefotaksim ( 3 )
H Sefapirin ( 1 )
-OCH3 Sefoksitin ( 2 )
H Sefuroksim ( 2 )
H Sefsulodin ( 3 )
H Seftazidim ( 3 )
H Sefamandol ( 2 )
HN=CH-CH2 - S-CH2 - -OCH3 Sefmetazol ( 2 )
- Sefoperazon ( 3 )
-OCH3 Sefotetan ( 2 )
H Sefotiam ( 3 )
H Sefamandol ( 2 )
-OCH3 Moksalaktam ( 3 )
H H Seftizoksim ( 3 )
H Sefotaksim ( 3 )
H Seftazidim ( 3 )
H Seftriakson ( 3 )
H Sefalotin ( 1 )
H Sefapirin ( 1 )
H Sefamandol nafat
( 3 )
- OCH3 Sefotetan ( 2 )
HN=CH-CH2 - S-CH2 - - OCH3 Sefmetazol ( 2 )
-OCH3 Sefoksitin ( 2 )
moksalaktam


TURUNAN β – LAKTAM NONKLASIK

Β-laktam non klasik adalah antibiotik yang mengandung cincin β-laktam, yang kadang bergabung dengan cincin lain yang terdiri dari 5 atau 6 atom.

Β-laktam non klasik dibagi menjadi 5 kelompok :
1. Turunan asam amidopenisilanat
2. Turunan asam penisilanat
3. Karbapenem
4. Oksapenem
5. Turunan β-laktam monosiklik

1. TURUNAN ASAM AMIDOPENISILANAT

Aktif terhadap bakteri gram negatif dan aktivitasnya rendah terhadap gram positif.
Kombinasi dengan antibiotika β-laktam lain menunjukkan efek sinergis karena mekanisme kerjanya berbeda ( terikat pada protein bakteri )

Contoh : amdinosilin, bakmesilinam, pivmesilinam.

2. TURUNAN ASAM PENISILANAT


Digunakan sebagai penghambat enzim β-laktamase dan diberikan dalam bentuk kombinasi dengan β-laktam klasik seperti ampisilin, amoksisilin.
Contoh : sulbaktam dan pivsulbaktam

3. KARBAPENEM

Karbapenem adalah :
1. analog penisilin alami
2. atom S pada cincin tiazolidin diganti dengan ikatan rangkap dan gugus metilen.
3. atom S terikat pada C3

Aktivitas antibakteri tergantung pada :
1. tegangan cincin
2. efek elektronik dari ikatan rangkap yang berdekatan
3. substituen di sekeliling berfungsi untuk modifikasi lipofilisitas
4. meningkatkan stabilitas terhadap β-laktamase
5. aktivitas serupa dengan sefalosporin generasi ketiga
Contoh : aspareomisin A, karpetimisin C, asam olivanat, imipenem, thienamisin
4. OKSAPENEM


Aktivitas antibakteri rendah tetapi sangat aktif sebagai deaktivator β-laktamase.
Digunakan dalam bentuk kombinasi dengan turunan penisilin untuk memperpanjang efek antibakterinya. Contoh : asam klavulanat

5. TURUNAN Β-LAKTAM MONOSIKLIK
( MONOBAKTAM )

Contoh : astreonam, sulfazesin, tigemonam

Astreonam adalah turunan monobaktam yang mempunyai stabilitas tinggi terhadap β-laktamase karena :
1. gugus sulfamat yang bersifat elektro negatif kuat
2. gugus hidrofil lain
3. gugus 4-metil



BAB III
TURUNAN MAKROLIDA

MEKANISME KERJA

Mengikat ribosom 50-S secara takterpulihkan sehingga memblok ikatan tRNA dan mencegah translokasi peptida sehingga merupakan senyawa bakteriostatik dan hanya efektif pada mikroorganisme yang aktif membelah.

EFEK SAMPING

Gangguan saluran cerna ringan yang berupa sakit kepala, mual, pusing, diare dan reaksi alergi.

STRUKTUR MAKROLIDA


X = CO : Eritromisin
X = N-CH3 : Azitromisin

Karakteristik makrolida :
1. Cinicin lakton sangat besar, biasanya mengandung 12 – 17 atom
2. Gugus keton
3. Satu atau dua gula amin seperti glikosida yang berhubungan dengan cincin lakton
4. Gula netral yang berhubungan dengan gula amino atau pada cincin lakton
5. Gugus dimetilamino pada residu gula, yang menyebabkan sifat basis dari senyawa dan kemungkinan untuk dibuat dalam bentuk garamnya.

Eritromisin terdiri dari :
1. aglikon eritronolid A
2. gula amino desosamin dan gula netral kladinosa
3. Membentuk garam pada gugus dimetilamino ( 3’ ) dengan asam.
4. Membentuk ester pada gugus hidroksi ( 2’ ) yang tetap aktif secara biologis.

Azitromisin mempunyai stabilitas yang lebih baik terhadap asam lambung dibanding analog eritromisin lainnya dengan masa kerja obat yang panjang sehingga digunakan satu kali sehari.


BAB IV
TURUNAN TETRASIKLIN


Karakteristik struktur tetrasiklin adalah :
1. Turunan oktahidronaftasen yang terbentuk dari gabungan 4 buah cincin.
2. Mempunyai 5 atau 6 pusat atom asimetrik
3. Bersifat amfoter karena mengandung gugus yang bersifat asam (gugus hidroksil) dan yang bersifat basa ( gugus dimetilamino )
4. Dengan asam kuat membentuk garam asam yang mudah larut dalam air dan cukup stabil, melalui protonisasi gugus dimetilamino pada C4.
5. Dengan basa kuat ( NaOH, KOH, Ca(OH)2 ) membentuk garam basa yang tidak stabil dalam air.
6. Mempunyai gugus – gugus yang dapat membentuk ikatan hidrogen intramolekul.
7. Dapat membentuk kompleks dengan garam – garam ( Ca, Fe, Mg )
8. Mempunyai tiga gugus yang mudah terionisasi yaitu gugus trikarbonilmetan (pKa3), fenoldiketon (pKa2), amonium kationik (pKa1).
9. Pada larutan pH 2 – 6 mengalami epimerisasi pada atom C4, membentuk epitetrasilin yang mempunyai aktivitas antibakteri yang lebih rendah
10. Asam kuat menyebabkan dehidrasi dengan mengambil gugus OH dari C6 dan atom H dari C5a sehingga membentuk ikatan rangkap antara C6 dan C5a, perpindahan ikatan rangkap dari C11a=C12 ke C11=C11a membentuk anhidrotetrasiklin yang tidak aktif.
11. Basa kuat akan memacu reaksi antara gugus OH pada C6 dengan gugus keton pada C11 sehingga ikatan rangkap C11=C11a putus membentuk cincin lakton, terbentuk isotetrasiklin yang tidak aktif.

MEKANISME KERJA

Tetrasiklin dapat membentuk khelat dengan ion-in logam yang penting untuk kehidupan bakteri misalnya ion Mg dan pembentukan khelat tersebut memudahkan pengangkutan tetrasiklin menuju sisi kerjanya.

Tempat kerja utama tertasiklin adalah pada ribosom 30-S yang dicapai dengan 2 proses yaitu :
1. difusi pasif melalui pori hidrofil pada membran terluar bakteri. Doksisiklin dan minoksiklin mempunyai kelarutan dalam lemak tinggi, sehingga secara langsung dapat melalui lemak membran
2. sisttem pengangkutan aktif yang tergantung energi. Pompa dari semua turunan tetrasiklin adalah melalui membran sitoplasma terdalam, kemungkinan dengan bantuan pembawa protein periplasma

Proses yang terjadi di dalam sel bakteri adalah :
1. tetrasiklin mengikat secara khas dan terpulihkan ribosom 30-S,
2. menghambat jalan masuk aminoasil-tRNA ke aseptor A pada kompleks mRNA-ribosom
3. menghalangi penggabungan asam amino ke rantai peptida dan
4. menyebabkan hambatan sintesa protein

Tetrasiklin menghambat interaksi kodon-antikodon pada tempat A dari subunit ribosom yang terkecil yaitu 30-S atau 40-S. Sifat penghambatan turunan tetrasiklin berhubungan dengan struktur elektronik yang melibatkan secara langsung interaksi atom C6 dan gugus fenoldiketon dengan sisi reseptor.

STRUKTUR UMUM TURUNAN TETRASIKLIN




R1 R2 R3 R4 NAMA OBAT
H H H H Sansiklin
H OH CH3 H Tetrasiklin
H OH CH3 Cl 7-klortetrasiklin
OH OH CH3 H 5-oksitetrasiklin
H OH H Cl Demeklosiklin
OH =CH2 - H Metasiklin
OH H CH3 H Doksisiklin
H H H N(CH3)2 Minoksiklin


HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS TURUNAN TETRASIKLIN

1. Gugus farmakofor dengan aktivitas biologis penuh adalah senyawa semisintetik sansiklin karena mengandung struktur yang dibutuhkan untuk pembentukan khelat dan dipandang mempunyai peran penting pada pengangkutan turunan tetrasilin ke dalam sel bakteri dan penghambatan biosintesa protein di dalam sel
2. Struktur yang penting dalam aktivitas antibakteri turunan tetrasiklin adalah :
a. Pengaturan linier dari empat cincin
b. Konfigurasi pusat kiral pada C4, C4a dan C12a.
c. Sistem planar fenol diketon pada cincin BCD
d. Sistem elektron π yang berbeda ( gugus fenoldiketon dan trikarbonilmetan ).
e. Gugus 4-dimetilamino untuk membentuk ion Zwitter agar obat dapat terdistribusi optimum dalam tubuh dan aktivitas in vivo
f. Gugus karbonil pada C2
3. Struktur yang dapat diubah adalah :
a. Konfigurasi pada C5a dan C6
b. Cincin AB
c. Satu atom H pada gugus amida yang terikat pada C2
d. Daerah hidrofob pada C5 sampai C9 dapat diubah asal tidak mempengaruhi bentuk konformasi esensialnya.
4. Aktivitas akan meningkat bila :
a. Substituen yang dapat meningkatkan kemampuan donor elektron dari gugus fenoldiketon
b. Modifikasi pada C6 dan C7 menghasilkan turunan yang
i. mempunyai stabilitas kimia lebih besar
ii. memperbaiki sifat farmakokinetik
iii. meningkatkan aktivitas
Seperti pada doksisiklin dan minoksiklin yang kehilangan gugus 6-hidroksi sehingga senyawa tidak mengalami degradasi menjadi 5,6-anhidrotetrasiklin. Doksisiklin dan minoksiklin mempunyai lipofilisitas yang lebih tinggi dibanding tetrasiklin alami. Pemberian secara oral akan diabsorpsi sempurna dan tidak dipengaruhi oleh makanan, mempunyai waktu paruh yang panjang dengan dosis yang lebih kecil dari tetrasiklin. Doksisiklin merupakan satu-satunya turunan tetrasiklin yang aman untuk penderita infeksi ginjal. Minoksiklin merupakan satu-satunya turunan tetrasilin yang dapat mencapai kadar tinggi dalam sistem saraf pusat.
5. Aktivitas akan menurun bila :
a. Penambahan atau pengurangan jumlah cincin dan pembukaan cincin akan menghilangkan aktivitas.
b. Penambahan atau pengurangan gugus farmakofor akan menyebabkan penurunan atau hilangnya aktivitas
6. Semua turunan tetrasiklin pada pH fisiologis mempunyai bentuk konfigurasi yang sama, gugus dimetilamino berada di bawah sistem yang planar dan kemungkinan membentuk ikatan hidrogen dengan gugus OH pada cincin C12a

OBAT-OBAT ANALGETIK

ANALGETIK


PENDAHULUAN
Analgetika merupakan suatu senyawa atau obat yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri yang diakibatkan oleh berbagai rangsangan pada tubuh misalnya rangsangan mekanis, kimiawi dan fisika sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan yang memicu pelepasan mediator nyeri seperti brodikinin dan prostaglandin yang akhirnya mengaktivasi reseptor nyeri di saraf perifer dan diteruskan ke otak yang secara umum dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu analgetika non narkotik seperti asetosal, parasetamol dan analgetika narkotik seperti morfin.
Rangsang yang menimbulkan rasa nyeri ialah kerusakan pada jaringan, atau gangguan metabolisme jaringan. Hal ini mengakibatkan perubahan pada konsentrasi lokal ion (penurunan harga pH jaringan, peninggian konsentrasi ion kalium ekstrasel) maupun pembebasan senyawa mediator. Sebagai akibatnya, reseptor nyeri (nosiseptor) yang terdapat dikulit, didalam jaringan yang terdapat didalam kerangka otot, jaringan ikat, dan selaput tulang dapat terangsang. Tergantung pada letak timbulnya rasa nyeri dapat dibedakan antara nyeri permukaan, nyeri yang dalam dan nyeri viceral, yang secara kualitatif dialami dengan cara yang berbeda. Dari reseptor, nyeri dikonduksi sebagai impuls listrik yang bersusulan (potensial aksi) melalui urat saraf sensorik (urat saraf nyeri) ke sumsum tulang belakang dan akhirnya melalui otak tengah (talamus) ke sinusoid pusat posterior dari otak besar, dimana terjadi kesadaran akan nyeri
Patofisiologi Nyeri
Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi serta sering memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang tidak mengenakkan, kebanyakan menyiksa dan karena itu berusaha bebas darinya. Pada beberapa penyakit, misalnya pada tumor ganas dalam fase akhir, meringankan nyeri kadang-kadang merupakan satusatunya tindakan yang berharga. Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala yang fungsinya member tanda tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri disebabkan oleh rangsangan mekanisme atau kimiawi, panas atau listrik yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang disebut mediator nyeri. Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangsang dialirkan melalui saraf sensoris ke sistem saraf pusat (SSP), melalui 7 sumsum tulang belakang ke talamus optikus kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar dimana rangsang terasa sebagai nyeri.
Berdasarkan tempat terjadinya, nyeri dibedakan menjadi 2 yaitu: nyeri somatik dan nyeri viceral. Nyeri somatik dibagi dua kualitas yaitu nyeri permukaan dan nyeri dalam. Bila nyeri berasal dari kulit rangsang yang bertempat dalam kulit maka rasa yang terjadi disebut nyeri permukaan, sebaliknya nyeri yang berasal dari otot, persendian, tulang, atau dari jaringan ikat disebut nyeri dalam. Nyeri permukaan yang terbentuk kira-kira setelah tertusuk dengan jarum pada kulit, mempunyai karakter yang ringan, dapat dilokalisasi dengan baik dengan hilang cepat setelah berakhirnya rangsang. Nyeri ini dapat dikatakan nyeri pertama. Nyeri pertama sering diikuti nyeri kedua khususnya pada intensitas rangsang yang tinggi. Sifatnya menekan dan membakar yang sukar untuk dilokalisasi dan lambat hilang. Nyeri ini disebut nyeri lama (11). Mediator-mediator nyeri yang terpenting adalah histamin, serotonin, plasmakinin (antara lain bradikinin) dan prostaglandin, juga ionion kalium. Zat-zat tersebut dapat mengakibatkan reaksi-reaksi radang dan kejang-kejang dari jaringan otot yang selanjutnya mengaktifkan reseptor nyeri. Plasmakinin merupakan peptida (rangkaian asam-asam amino) yang terbentuk dari protein-protein plasma, sedangkan prostaglandin merupakan zat yang mirip asam lemak dan terbentuk dari asam-asam lemak esensial. Kedua zat tersebut berkhasiat sebagai vasodilatator kuat dan memperbesar permeabilitas (daya hablur) kapiler dengan akibat terjadinya radang dan udema selain sistem penghantar nyeri, masih terdapat sistem penghambat nyeri tubuh sendiri pada tingkat yang berbeda, terutama dalam batang otak dan dalam sumsum tulang belakang, mempersulit penerusan impuls nyeri sehingga menurunkan rasa nyeri.
Endorfin sebagai agonis system penghambat nyeri tubuh sendiri telah diidentifikasikan sebagai polipeptida dan oligopeptida. Endorfin bekerja pada reseptor yang sama, disebut reseptor opiat, sehingga menunjukkan kerja farmakodinamika yang sama seperti opiat, dan karena sifat peptidanya maka farmakokinetiknya berbeda. Endorfin melalui kerja pada prasinaptik menurunkan pembebasan neurotransmitter lain khususnya senyawa P sebagai pembawa impuls nyeri somatic sehingga jumlah potensial aksi yang diteruskan menurun.
Cara pemberantasan nyeri:
1. Menghalangi pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri perifer oleh analgetika perifer atau oleh anastetik lokal.
2. Menghalangi penyaluran rangsang nyeri dalam syaraf sensoris, misalnya dengan anastetik lokal.
3. Menghalangi pusat nyeri dalam sistem syaraf pusat dengan analgetika sentral (narkotik) atau dengan anastetik umum.
a. Pengertian analgetika
Analgetika adalah senyawa yang dalam dosis terapetik meringankan atau menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anestesi umum. Kesadaran akan perasaan sakit terdiri atas dua tahap yaitu tahap penerimaan perangsang sakit dibagian otak besar dan tahap reaksi emosional dari individu terhadap perangsang ini. Obat penghilang nyeri (analgetika) mempengaruhi proses pertama dengan mempertinggi ambang kesadaraan akan rasa sakit, sedangkan narkotika menekan reaksi-reaksi psikis yang diakibatkan oleh perangsang sakit itu Berdasarkan kerja farmakologisnya, analgetika dibagi 2 kelompok besar, yaitu analgetika narkotik dan analgetika non narkotik.
b. Penggolongan Analgetika
1. Analgetika Narkotik
Zat ini mempunyai daya penghalau nyeri yang kuat sekali dengan titik kerja yang terletak di sistem saraf sentral, mereka umumnya menurunkan kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia), serta mengakibatkan ketergantungan fisik dan psikis (ketagihan, adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Analgetika narkotik atau analgesic opioid merupakan kelompok obat yang mempunyai sifat-sifat seperti opium atau morfin. Termasuk golongan obat ini yaitu:
1) Obat yang berasal dari opium-morfin,
2) Senyawa semi sintetik morfin,
3) Semi sintetik yang berefek seperti morfin.
Mekanisme aksi dari obat-obat golongan ini adalah menghambat adenilat siklase dari neuron, sehingga terjadi penghambatan sintesis c-AMP (siklik Adenosin Mono Phosphat), selanjutnya menyebabkan perubahan keseimbangan antara neuron noradrenergik, serotonik dan kolinergik. Mekanisme kerja yang sesungguhnya belum benar-benar jelas.
2. Analgetika Non Narkotik
Analgetika non-narkotik bersifat tidak adiktif dan kurang kuat dibandingkan dengan analgetika narkotik. Obat-obat ini juga dinamakan analgetika perifer, tidak menurunkan kesadaran dan tidak mengakibatkan ketagihan secara kimiawi. Obat-obatan ini digunakan untuk mengobati nyeri yang ringan sampai sedang dan dapat dibeli bebas. Obat-obatan ini efektif untuk nyeri perifer pada sakit kepala, dismenore (nyeri menstruasi), nyeri pada inflamasi, nyeri otot, dan arthritis ringan sampai sedang. Kebanyakan dari analgetika menurunkan suhu tubuh yang tinggi,
sehingga mempunyai efek antipiretik. Beberapa analgetika seperti aspirin, mempunyai efek antiinflamasi dan juga efek antikoagulan. Efek samping dari analgetika yang paling umum adalah gangguan lambung, kerusakan darah, kerusakan hati, dan juga reaksi alergi di kulit.
Analgetika secara kimiawi dibagi atas 4 golongan yaitu :
1) Golongan salisilat
a. Asetosal
b. Salisilamid
c. Natrium salisilat
2) Golongan pirazolon
a. Antipirin
b. Aminopirin
c. Fenilbutazon
3) Golongan antranilat
a. Glafenin
b. Asam mefenamat
c. Ibuprofen
4) Golongan p-aminofenol
a. Fenasetin
b. Paracetamol


OBAT-OBATAN ANALGETIK
a. Obat-obatan golongan non narkotik
1. Asam mefenamat (golongan antranilat)
Asam mefenamat merupakan kelompok antiinflamasi non steroid bekerja dengan cara menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim siklooksiginase sehingga mempunyai efek analgesik, antiinflamasi dan antipiretik.
Uraian Kimia
Nama resmi : Acidum Mefenamicum
Sinonim : Benzoic acid, 2-[(2,3-etilfenil) amino], N-(2,3 Xyly)
anthranilic acid, ponstan.
Rumus molekul : C15H15N3NO2
Farmakodinamika
Asam mefenamat mempunyai sifat analgesik, tetapi efek antiinflamasinya lebih sedikit dibandingkan dengan aspirin, karena terikat kuat pada protein plasma maka interaksi terhadap antikoangulan harus diperhatikan.
Farmakokinetika
Penyerapan obat dalam saluran cerna cepat dan hampir sempurna, 99% obat terikat oleh protein plasma. Kadar plasma tertinggi dicapai dalam 2 jam setelah pemberian oral, dan waktu paruh dalam plasma 2-4 jam.
Efek Samping dan Intoksikasi
Efek samping yang paling sering terjadi (kira-kira terjadi pada 25% dari seluruh pasien) melibatkan sistem gastrointestinal. Biasanya berupa dispepsia atau ketidaknyamanan gastrointestinal bagian atas, diare yang mungkin berat dan disertai pembengkakan perut, serta perdarahan gastrointestinal. Sakit kepala, pusing, mengantuk, tegang dan gangguan penglihatan juga umum terjadi.
Interaksi Obat
Obat-obat anti koagulan oral seperti warfarin; asetosal (aspirin) dan insulin.
Cara Penyimpanan
Simpan di tempat sejuk dan kering.
Kontraindikasi
Pada penderita tukak lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat. Pemakaian secara hati-hati pada penderita penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran cerna.
Contoh produk dipasaran

Dosis
- Untuk nyeri dosis awal 500 mg, dilanjutkan dengan dosis 250 mg, setiap 6 jam jika
di perlukan, penggunaan sebaiknya tidak lebih dari 1 minggu.
- Untuk dismenore penggunaan saat terjadi haid, pnggunaan tidak lebih dari 2 -3 hari.


2. Parasetamol

Penemuan parasetamol sebagai senyawa analgetika dan antipiretik dari adanya kerancuan asetanilida yang semula digunakan sebagai antipiretik kemudian dikembangkan senyawa-senyawa yang kurang toksik sebagi antipiretik. Pada mulanya dicobakan senyawa para-aminofenol yang merupakan komponen hasil oksidasi asetanilida di dalam tubuh, walaupun demikian toksisitasnya tidak berkurang.
Nama lain parasetamol adalah asetaminofen, sedangkan nama dagang dari parasetamol adalah Panadol®, Tylenol®, Tempra®, Nipe®, derivat asetanilida ini adalah metabolit dari fenasetin, yang dahulu banyak digunakan sebagai analgetika, tetapi pada tahun 1978 telah ditarik dari peredaran karena efek sampingnya, yaitu nefrotoksisitas dan karsinogen. Khasiatnya sebagai analgetika dan antipiretik tetapi tidak anti radang. Dewasa ini pada umumnya dianggap sebagai zat anti nyeri yang paling aman, juga untuk swamedikasi (pengobatanSendiri) Obat ini mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri, tanpa mempengaruhi sistem saraf pusat atau menghilangkan kesadaran. Juga tidak menimbulkan ketagihan (adiktif). Obat anti nyeri parasetamol juga digunakan pada gangguan demam, infeksi virus atau kuman, salesma, pilek dan rematik atau encok walaupun jarang (Tjay dan Rahardja, 2002).
Mekanisme kerja
Paracetamol bekerja mengurangi produksi prostaglandin yang terlibat dalam proses nyeri dan edema dengan menghambat enzim cyclooxygenase (COX).

Efek samping
Efek samping sering terjadi antara lain hipersensitivitas dan kelainan darah. Penggunaan kronis dari 3-4 gram sehari dapat terjadi kerusakan hati, pada dosis diatas 6 gram mengakibatkan nekrosis hati yang tidak reversibel. Overdose bisa menimbulkan antara lain mual, muntah dan anorexia. Hanya parasetamol yang dianggap aman bagi wanita hamil dan menyusui meskipun dapat mencapai air susu. Efek iritasi, erosi dan pendarahan lambung tidak terlihat, demikian juga gangguan pernafasan.
Farmakokinetik
Parasetamol adalah ekstensif dimetabolisme di hati dan dikeluarkan melalui urin terutama sebagai tidak aktif dan konjugat glukuronat sulfat, Metabolit parasetamol termasuk dihidroksilasi kecil menengah yang memiliki aktivitas hepatotoksim, metabolit intermediate didetoksifikasi melalui konjugasi dengan glutation, namun dapat mengakumulasi berikut overdosis parasetamol (lebih dari 150mg/kg atau total parasetamol 10g tertelan) dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan kerusakan hati ireversibel.
Farmakodinamika
Parasetamol adalah-aminofenol derivatif p yang menunjukkan aktivitas analgesik dan antipiretik, tapi tidak memiliki aktivitas anti-inflamasi, Parasetamol adalah pemikiran untuk menghasilkan analgesia yang melalui penghambatan pusat sintesis prostaglandin.
Interaksi
- resin penukar ion, kolesteramin, menurnkan absorbs paracetamol
- antikoagulan :pengunaan paracetamol secara rutin dapat menyebabkan peningkatan kadar warfarin.
- metoklorpropamid dan domperidon : metoklorpropamid mempercepat absorbs paracetamol (meningkatkan efek )
Dosis :
oral : 0.5-1 gram tiap 4-6 jam hingga maksimum 4 jam perhari.
Anak 2 bulan : 60 mg pada demam pasca operasi
Dibawah usia 3 bulan hanya dengan nasehat dokter.
3 bulan-1 tahun : 60-120 mg perhari
dosis-dosis ini boleh diulang tiap 4-6jam bila diperlukan (maksimum sebanyak 4 dosis dalam waktu 24 jam )
Contoh produk yang ada dipasaran :
a. parasetamol (generik)
b. afebrin (konimex) tablet 500mg
c. afidol (afiat) tablet 500mg
d. biogesik (medifarma) sirup 150mg/5 ml dan tablet 500 mg
e. bodrex (tempo) tablet 500 mg
f. dumin (dumex) sirup 120mg/5 ml dan tablet 500 mg
g. fasidol (ifars) sirup 150mg/5 ml dan tablet 500 mg
h. itramol (itrasal) sirup 120mg/5 ml
Sumagesik Dumin Biogesik
3. Aspirin

Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi (peradangan). Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung. Kepopuleran penggunaan aspirin sebagai obat dimulai pada tahun 1918 ketika terjadi pandemik flu di berbagai wilayah dunia Awal mula penggunaan aspirin sebagai obat diprakarsai oleh Hippocrates yang menggunakan ekstrak tumbuhan willow untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kemudian senyawa ini dikembangkan oleh perusahaan Bayer menjadi senyawa asam asetilsalisilat yang dikenal saat ini. Aspirin adalah obat pertama yang dipasarkan dalam bentuk tablet. Sebelumnya, obat diperdagangkan dalam bentuk bubuk (puyer). Dalam menyambut Piala Dunia FIFA 2006 di Jerman, replika tablet aspirin raksasa dipajang di Berlin sebagai bagian dari pameran terbuka Deutschland, Land der Ideen ("Jerman, negeri berbagai ide").
Mekanisme kerja
Penghambatan sintesis prostaglandin di pusat pengatur panas dalam hipotalamus dan periferdi daerah target. Lebih lanjut, dengan menurunkan sintesis prostaglandin, salisilat juga mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit terhadap rangsangan mekanik dan kimiawi. Aspirin juga menekan rangsang nyeri pada daerah subkortikal (yaitu, talamus dan hipotalamus).
Farmakodinamika
Asetosal merupakan obat yang paling banyak digunakan sebagai analgesic, antipiretik dan antiinflamasi. Aspirin dosis tinggi terapi bekerja cepat dan efektif sebagai antipiretik. Dosis toksis ini justru memperlihatkan efek piretik sehingga pada keracunan berat terjadi demam dan hiperhidrosis.
Untuk memperoleh efek inflamasi yang baik kadar plasma perlu dipertahankan antara 250-350 µg/ml. kadar ini tercapai dengan dosis aspirin oral 4gram perhari untuk orang dewasa. Pada penyakit demam reumatik, aspirin masih belum dapat digantikan oleh ains yang lain dan masih dianggap sebagai standar dalam studi banding penyakit arthiritis rheumatoid.
Farmakokinetika
Pada pemberian oral sebagian salisilat diabsorbsi dengan cepat dalam bentuk utuh dilambung. Ttapi sebagian besar diusus halus bagian atas. Kadar tertingi dicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian. Kecepatan absorbsinya tergantung dri kecepatan disintegrasi dan disolusi obat, pH permukaan mukosa dan waktu pengosongan lambung. Setelah diabsorbsi salisilat segera menyebar keseluruh jaringan tubuh dan cairan transellular sehingga ditemukan dalam cairan senovial, cairan spinal, liur dan air susu. Obat ini dapat menembus sawar darah otak dan sawar urin. Kira-kira 80% sampai dengan 90% salisilat plasma terikat di albumin. Aspirin diserap dalam bentuk utuh, dihidrolisis menjadi asam salisilat terutama dalam hati sehingga hanya kira-kira 30 menit terdapat dalam plasma.
Efek samping
Reye's syndrome : Iritasi lambung karena bersifat asam.
Efek terhadap Sistem syaraf : Nyeri pada ujung syaraf, sakit kepala, epilepsi, agitasi, perubahan mental, koma, paralisis, pusing, limbung, depresi, bingung,amnesia, sulit tidur.
Efek lain : Demam, myopathy, epistaxis, kerusakan ginjal, penurunan fungsi ginjal, meningkatkan kreatinin, hematouria, oligouria, UTI, asidosis, asidosis metabolit, hiperfosfatemia, hipomag-nesemia, hiponatremia, hipernatremia, hipokalemia, hiperka-lemia hiperkalsemia, abnormalitis elektrolit. Tumor lisi sindrom sepsis, infeksi lain, Kerusakan jantung, gangguan pernafasan.
Interaksi obat
Dengan Obat Lain : Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga dapat meningkatkan toksisitas allopurinol.
Chlorpropamide : Meningkatkan reaksi hepatorenal, monitor hipoglikemi.
Obat lain : Cotrimoxazole : Trombositopenia Cyclosporin : Meningkatkan konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian dosis) .
Dengan Makanan : Makanan & susu : Menurunkan efek merugikan terhadap saluran cerna.
Dosis
Dosis : untuk nyeri dan demam
Oral : 4 dd 0,5 1 g p.c., maksimum 4 g sehari
anak-anak sampai 1 tahun 10 mg/kg 3-4 kali sehari,
1 – 12 tahun 4-6 dd,
di atas 12 tahun 4 dd 320-500 mg, maksimum 2 g/hari.
Rektal : dewasa 4 dd 0,5 – 1 g, anak-anak sampai 2 tahun 2 dd 20 mg/kg, di atas 2 tahun 3 dd 20 mg/kg p.c.
Contoh produk yang ada dipasaran
- Aptor - Aspilets - Aspimec - Aspirin Bayer
- Astika - Bodrexin - Cardio Aspirin - Farmasal
- Procardin - Restor - Thrombo Aspilets - Ascardia

Aspirin
4. Ibuprofen

Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui.
Indikasi
Nyeri & radang pada penyakit artritis (rheumatoid arthritis, juvenile arthritis, osteoarthritis) & gangguan non sendi (otot kerangka), nyeri ringan sampai berat termasuk dismenorea, paska bedah, nyeri & demam pada anak-anak
Mekanisme kerja
Menghambat sintesis prostaglandin dgn menghambat COX-1 & COX-2
Efek samping
Gangguan saluran cerna : dispepsia, heartburn, mual, muntah, diare, konstipasi, anoreksia dll.
Gangguan sistem saraf : sakit kepala, pusing,
Gangguan pendengaran & penglihatan : tinitus, penurunan pendengaran, gangguan penglihatan sakit kuning, kenaikan SGOT & SGPT.
Lain-lain : retensi cairan, gagal jantung kongestif, tekanan darah meningkat, hipotensi, aritmia, reaksi hipersenstivitas, mulut kering
Interaksi obat
Dengan Obat Lain :
Antikoagulan & antitrombotik : Meningkatkan efek samping perdarahan saluran cerna.
Aspirin : Meningkatkan efek samping & menurunkan efek kardioprotektif dari aspirin.
Litium : Meningkatkan konsentrasi litium dalam plasma & serum dan dapat menurunkan klirens.
Kontraindikasi
Pasien dengan hipersensitivitas, asma, urtikaria, rinitis parah, angioudema
Dosis
Artritis : 400-800 mg 3-4 kali sehari (maksimun 3.2 g/hari)
Juvenile artritis : 30-40 mg/kg berat badan per hari dalam 3-4 dosis terbagi (maksimum 50 mg/kg berat badan)
Nyeri ringan s/d sedang : 200-400 mg tiap 4-6 jam, bila perlu (max 1,2 g/hari)
Contoh produk yang ada dipasaran
- Dofen - Dolofen Forte - Farsifen - Febryn
- Fenris - Helafen - Iprox - Nofena
- Ostarin - Profen - Proris - Ribunalm Shelrofen
- Anafen


5. Na-diklofenak
Indikasi
Nyeri paska bedah, nyeri & radang pada penyakit artritis & gangguan otot kerangka lainnya, nyeri pada gout akut dan dismenorea.
Mekanisme kerja
Penghambatan biosintesa prostaglandin, yang telah dibuktikan pada beberapa percobaan, mempunyai hubungan penting dengan mekanisme kerja kalium diklofenak. Prostaglandin mempunyai peranan penting sebagai penyebab dari inflamasi, nyeri dan demam. Pada percobaan-percobaan klinis Kalium Diklofenak juga menunjukkan efek analgesik yang nyata pada nyeri sedang dan berat. Dengan adanya inflamasi yang disebabkan oleh trauma atau setelah operasi, kalium diklofenak mengurangi nyeri spontan dan nyeri pada waktu bergerak serta bengkak dan luka dengan edema. Kalium diklofenak secara in vitro tidak menekan biosintesa proteoglikan di dalam tulang rawan pada konsentrasi setara dengan konsentrasi yang dicapai pada manusia.
Kontraindikasi
Pasien dengan hipersensitivitas, asma, urtikaria, rinitis parah, angioudema, tukak lambung aktif
Efek samping
Pencernaan :gangguan pada saluran cerna bagian atas (20% pasien) tukak lambung, perdarahan saluran cerna.
Saraf : sakit kepala (3-9% pasien), depresi, insomnia, cemas.
Ginjal :(kurang dari 1% pasien) terganggu fungsi ginjal (azotemia,proteinuria,nefrotik sindrom dll),
Kardiovaskular: retensi cairan, hipertensi, (3-9% pasien),
Pernapasan : asma (kurang dari 1% pasien)
Darah : lekopenia, trombositopenia, hemolitik anemia (kurang dari 1% pasien)
Hati : hepatitis, sakit kuning (jarang), peningkatan SGOT
Lain-lain : ruam, pruritus, tinnitus, reaksi sensitivitas (1-3% pasien).
Interaksi
Dengan Obat Lain :
Antikoagulan : Dapat memperparah perdarahan saluran cerna.
Metotreksat : Meningkatkan konsentrasi metotreksat.
Glikosida jantung : Meningkatkan toksisitas glikosida jantung.
Diuretik : Secara bersamaan dengan HCT, meningkatkan kadar kalium dalam serum, dengan triamterene meningkatkan resiko kerusakan ginjal.
NSAID : Penggunaan bersama aspirin dapat meningkatkan eksresi diklofenak melalui empedu.
Siklosporin : Meningkatkan efek nefrotoksik siklosporin.
Litium :Meningkatkan konsentrasi plasma litium dan menurunkan klirens litium.
Antidiabet :Kasus hipoglikemik & hiperglikemi (jarang terjadi)
Kuinolon : Dapat meningkatkan resiko stimulasi sistem saraf pusat
Antasid : Dapat menunda absorpsi diklofenak.
Kortikosteroid : Meningkatkan resiko ulser saluran cerna
Dosis
Nyeri & dismenore :
Dosis awal : 50 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 8 jam jika perlu
Pada pasien dengan gangguan ginjal dan hati tidak perlu penyesuaian dosis, tetapi perlu pemantauan yang ketat

Contoh obat yang ada dipasaran
- Alflam - Atranac - Berifen SR - Cataflam
- Cataflam D - Catanac - Deflamat - Dicloflam
- Diclomec - Diclomec Gel - Exaflam - Fenaren
- Fenavel - Flamenac - Kadiflam - Kaditic
- K Diklofenak - Klotaren - Laflanac - Matsunaflam
- Megatic - Merflam - Nadifen - Neuorofenac
- Nichoflam - Nilaren - Potazen - Prostanac
- Provoltar - Reclofen - Renadinac - Renvol
- Scanaflam - Scanteran - Tirmaclo - Valto
- Volmatik - Voltadex - Voltadex SR - Voltaren
- Voren - X-flam - Xepathritis - Zegren
- Adiflam

b. Obat-obatan golongan narkotik
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat seperti opium. Berdasarkan kerjanya pada reseptor, obat golongan opioid :
1. Morfin dan Alkaloid opium
Farmakokinetik
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh tetapi dapat diansorbsi melalui kulit luka morfin juga dapat menembus mokosa. Dengan kedua cara pemberian in absorbs morfin kecil sekali. Morfin dapat diabsorbsi usus, tetapi efek analgetik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. Mula kerja semua alkaloid opioid setelah suntikan IV sangat cepat, sedangkan setelah suntikan subkutan absorbs berbagai alkaloid berbeda-beda. Setelaah pemberian dosis tunggal sebagian morfin mengalami kunjugasi dengan asam glukoronat di hepar, sebagian dikleluarkan dalam bentuk bebas dan 10 % tidak diketahui nasibnya. Morfin dapat melintasi sawar urin dan mempengaruhi janin. Ekskresi morfin terutama melalui ginjal, sebagian kecil bebas ditemukan dalam tinja dan keringat. Morfin yang terkonyugasi ditemukan dalam empedu, sebagian yang sangat kecilkn dikeluarkan melalui cairan lambung.
Opium atau candu adalah getah papaver somniferum L yang telah dikeringkan. Secara kimia opium dibagi menjadi 2 golongan : 1) gol. Penantren 2) gol. Benzilisokinolin. Dari alkaloid derivate fenantren yang alamiah telah dibuat berbagai derivate sintetik.
Farmakologi
Dari masing-masing derivat secara kualitatif sama dan bebeda secara kuantitatif dengan morfin. Efek morfin pada susunan saraf pusat dan usus terutama di timbulkan karena morfin bekerja sebagai agonis pada reseptor µ, selain itu morfin mempunya afinitas yang lebih lemah terhadap reseptor δ dan K. efek berupa analgesia oleh morfin dan nakrosis dengan cara berikatan dengan reseptor opioid yang terutama yang didapakan di SSP dan medulla spinalis yang berperan pada transmisi dan modulasi nyeri. Agonis opioid melalui reseptor µ, δ dan K pada ujung sinaps aferen primer nosiseptif mengurangi penglepasan tramsmiter, dan selanjutnya menghambat saraf yang mentransmisi nyeri di komu dorsalis medulla spinalis. Dengan demikian opioid memiliki efek analgesic yang kuat melalui pengaruh pada medulla spinalis, selain itu µ agonis juga menimbulkan efek inhibisi pascasinaps melalui reseptor µ di otak.
Ekskresi morfin sebagian besar melalui ginjal sebagian kecil di keluarkan melalui tinja dan keringat
Indikasi
Diindikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan obat analgesic non opioid. Morfin sering digunakan nyeri yang menyertai 1) infark miokard; 2) neoplasma; 3)kolik renal atau kolik empedu; 4) oklusio akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau koroner; 5) perikarditis akut, pleuritis dan pneumotoraks spontan dan 6) nyeri akibat trauma.

Efek samping
Idiosinkrasi dan Alergi. Morfin dapat menyebabkan mual dan muntaah terutama pada wanita berdasarkan idiosinkrasi. Bentuk idiosinkrasi lain ialah timbulnya eksitasi dengan tremor, dan jarang-jarang dillirium lebihjarang lagi konfulsi dan insomnia. Bayi dan anak kecil tidak lebih peka terhadap alkaloid opium, asal saja dosis diperhitungkan berdasarkan berat badan, tetapi oranng lanjut usia dan pasien Penyakit berat agaknya lebih peka terhadap efek morfin.
Toleransi
Toleransi timbul terhadap efek depresi, tetapi tidak timbul terhadap efek eksitasi, miosis dan efek pada usus. Toleransi silang dapat timbul antara morfin, dihidromorfinon, metopon, kodein dan heroin. Toleransi timbul setelah pemakaian 2-3 minggu, kemungkinan timbul efek toleransi lebih besar apabila digunakan dosis besar secara teratur.
Adiksi
Disebut juga daya untuk menimbulkan adiksi berbeda-beda untuk masing-masing obat. Bahaya terbesar terdapat di heroin menimbulkan euphoria yang kuat yang tidak disertai mual ddan konstipasi
Contoh nama obat gol. Opioid
No Nama 8 Nama
1 Morfin 9 Hidralorfinokodon
2 Heroin 10 Oksikodon
3 Hidromorfon 11 Nalorfin
4 Oksimorfon 12 Nalokson
5 Levorvanol 13 Naltrekson
6 Levalorfan 14 Butorfanol
7 Kodein 15 Nalbufin
16 Tebain

2. Mefiridin dan Derivat Fenilpiperidin
Farmakodinamik
Bekerja terutama kerja sebagai agonis reseptor µ. Obat lain yang mirip dengan meperidin ialah piminodin, ketobemidon dan fenoperidin.
Farmakokinetik
Absorbsi meferidin setelah cara pemberian apapun langsung baik, akan tetapi kecepatan absorbsi mungkin tidak teratur setelah suntikan IM. Kadar puncak dalam plasma dalam 45 menit dan kadar yang dicapai sangat berfariasi antar individu. Setelah pemberian secara oral sekitar 50 % mengalami metabolism lintas pertama dan kadar maksimal dalam plasma tercapai dalam 11-2 jam. Setelah pemberian IV kadarnya dalam plasma menurun secara cepat dalam 1-2 jam pertama, kemudian penurunan berlangsung dengan lambat. Kurang lebih 60 % meferidin dalam plasma terikat protein metabolism meferidin terutama berlangsung dihati.
Farmakologi
efek dari mefiridin serupa dengan morfin.
Indikasi
Mefridin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia pada beberapa keadaan klinis seperti tindakan diagnostic sistoskopi, pielografiretrograd dan gastroskopi. Mefiridin digunakan jagu untuk menimbulkan analgesia obstetric dan sebagai obat praanastetik.

Efek samping
Pusing, berkeringat, euporia, mulut kering, mual, muntah, perasaan lemahl, gangguan penglihatan, palpitasi, disforia, sinkop dan sedasi.


Sediaan dan dosis
Mefiridin : 50-100 mg ( dalam bentuk tablet dan ampul)
Alfaprodin : 60 mg ( dalam bentuk ampul 1 ml dan vial 10 ml)
Difoneksilat : 20 mg per hari dalam dosis terbagi (dalam bentuk tablet dan sirop)
Loperamid : 4 – 8 mg /hari
Fentanil dan Derivatnya
3. Metadon
Farmakokinetik
Setelah suntikan metadon subkutan ditemukan kadar dalam plasma yang tinggi dalam 10 menit pertama. Sekitar 90 % metadon terikat protein plasma. Metadon diabsorbsi secara baik di usus dan dapat ditemukan diplasma setealah pemberian secara oral, kadar puncak dicapai setelah 4 jam. Metadon cepat keluar dari darah dan menumpuk dalam paru, hati, ginjal dan limpa. Hanya sebagian kecil yang masuk otak kadar maksimal metadon dalam otak dicapai dalam 1-2 jam setelah pemberian parenteral dan kadar ini sejajar dengan intensitas dan lama analgesia.
Farmakodinamik
Efek analgetik 7,5 – 10 mg metadon sama kuat dengan morfin, setelah pemberian berulang kali timbul efek sedasi yang jelas, mungkin karena adanya akumulasi.

Indikasi
Analgesia : Jenis nyeri yang dapat dipengaruhi oleh metadon sama dengan jenis nyeri yang dapat dipengaruhi morfin.
Antitusif : Metadon merupakan antitusif yang baik, efek anti tusif 1,5 -2 mg /oral sesuai dengan 15-20 mg kodein, tetapi kemungkinan timbulnya adiksi pada metadon jauh lebih besar dari pada kodein. Oleh karena itu sekarang metadon sudah mulai ditinggalkan sebagai antitusif.
Efek Samping
Menyebabkan perasaan ringan, pusing, kantuk, fungsi mental terganggu, berkerigat, pruritus, mual dan muntah. Efek samping yang jarang timbul adalah delirium, halusinasi selintas dan urtikaria hemoragik.
Sediaan dan Dosis
Metadon : 2,5 – 15 mg ( dalam bentuk tablet, vial dan ampul)
4. Propoksifen
Farmakodinamik
Propoksifen terutama bekerja terikat pada reseptor µmeskipunkurang selektif disbandingkan dengan morfin. Propoksifen 65-100 mg memberikan efek yang sama kuat denga 65 mg kodein. Propoksifen menimbulka perasaan yang panas dan iritasi ditempat suntikan. Kombinasi propoksifen dengan asetosal berefek analgesic jauh lebih baik jika masing-masing obat diberikan secara sendiri-sendiri.
Farmakokinetik
Propoksifen diabsorbsi setelah pemberian oral maupun parenteral. Seperti kodein, efektivitas jauh berkurang jika propoksifen diberikan secara oral. Biotransformasi propoksifen dengan cara enbemetilasi yang terjadi dalam hati.
Indikasi
Hanya digunakan untuk mengobati nyeri ringan sampai nyeri sedang, yang tidak cukup baik diredakan oleh asetosal. Kombinasi propoksifen dengan asetosal sama kuat seperti kombinasi kodein dengan asetosal.
Efek samping
Propoksifen memberikan efek mual, anoreksia, sembelit, nyeri perut dan kantuk, kurang lebih sama dengan kodein
Sediaan dan dosis
Propoksifen : 65 mg 4x sehari ( dalam bentuk tablet dan vial)
5. Antagonis Opioid
Obat-obat yang tergolong antagonis opioid umumnya tidak menimbulkan banyak efek kecuali bila sebelumnya telah ada efek agonis opioid aatau bila opioid endogen edang aktif misalnya pada keadaan stress atau syok. Nalokson merupakan prototif antagonis opioid yang relative murni, demikian pula naltrekson yang dapat diberikan secara oral dan memperlihatkan masa kerjalebih yang lama dari pada nalokson.
Nalorfin, levalorfan, siklazosin dan sejenisnya disamping memperlihatkan efek antagonis, menimbulkan efek otonomik, endokrin, analgetik dan depresi nafas mirip efek yang ditimbulkan oleh morfin. Obat-obat ini merupakan antagonis kompetitif reseptor µ, tetapi juga memperlihatkan efek agonis pada reseptor-reseptor lain.
Farmakodinamik
Efek tanpa pengaruh opioid pada berbagai eksperimen bahwa nalokson memperlihatkan :
a. Menurunkan ambang nyeri pada mereka yang biasanya ambang nyerinya tinggi
b. Mengantagonis efek analgetik placebo
c. Mengantagonis analgesia yang terjadi akibat perangsangan leawat jarum akupuntur, semua efek ini diduga berdasarkan antagonisme nalokson terhadap opioid endogen yang dalam keadaan lebih aktif
Nalorfin dan levalorfan juga menimbulkan depresi nafas yang diduga karena kerjanya pada reseptor K. berbeda dengan morfin, depresi nafas ini tidak bertambah dengan bertambahnya dosis, kedua obat ini bekerja memperberat depresi nafas oleh morfin dosis kecil, tetapi mengantagonis depresi nafas akibat morfin dosis besar.
Efek dengan pengaruh opioid frekuensi nafas meningkat dalam 1-2 menit setelah pemberian IV, IM nalokson pada pasien dengan depresi nafas akibat agonis opioid, efek sedatef dan efek terhadap tekanan darah juga segera dihilangkan. Antagonis nalokson terhadap efek agonis opioid sering disertai dengan terjadinya fenomena overshoot misalnya berupa penigkatan frekuensi nafas melebihi frekuensi sebelum dihambat oleh opioid. Fenomena ini diduga berhubungan dengan terungkapnya (unmasking) ketergantungan fisik akut yang timbul 24 jam setelah morfin dosis besar.
Indikasi
Antagonis opioid ini diindikasikan untuk mengatasi depresi nafas akibat takar kajak opioid, pada bayi yang dilairkan oleh ibu yang mendapat opioid sewaktu perdalinan atau akibat tentamen suicide dengan suatu opioid. Dalam hal ini alokson merupakan obat pilihan untuk kasus ini.
Sediaan dan Dosis
Nalorfin HCL : 0,2 mg /ml unutuk anak, 5 mg/ml untuk dewasa
Levalorvan : 1 mg/ml
Nalokson : 0,4 mg/ml
6. Agonis Parsial
a. Pentazosin
Farmakodinamik
Obat ini merupakan antagonis lemah pada reseptor µ tetapi merupakan agonis yang kuat pada reseptor K dan δ sehingga tidak mengantagonis depresi nafas oleh morfin. Efeknya terhadap SSP mirip dengan efek opioid yaitu nyebabkan analgesi, sedasi dan depresi nafas. Analgesi yang timbul agaknya karna efek pada reseptor K, karena sifatnya berbeda dengan analgesi akibat morfin. Analgesi timbul lebih dini dan hilang lebih cepat daripada morfin, setelah pemberian secara IM analgesi mencapai maksimal dalam 30 – 60 menit dan berakhir setelah 2-3 jam. Setelah pemberian oral efek maksimal dalam 1 – 3 jam dan lama kerja agak panjang darimpada setelah pemberian IM. Depresi nafas yang ditiimbulkannya tidak sejalan dengan dosis, pada dosis 60-90 mg obat ini menyebabkan disporia dan efek psikotomimetik mirip dengan morfin yang hanya dapat di antagomnis oleh aloksan. Diduga timbulnya disporia dan efek psikotomimetik karena kerjanya pada reseptor δ.
Farmakokinetik
Pentazosin diserap baik melalui pemberian apa saja, tetapi karena mengalami metabolism lintas pertama, bioavailabilytas per oral cukup berpariasi. Obat ini dimetabolisme secara intensif di hati untuk kemmudian di ekskresi sebagai metabolit melalui urin. Pada penderita sirosis hepatis bersihannya sangat kuat.
Indikasi
Pentazosin diindikasikan untuk mengatasi nyeri sedang tetapi kurang efektif dibandingkan morfin untuk nyeri berat. Obat ini juga digunakan untuk medikasi pre anastetik. Bila digunnakan untukk analgesi opstertik pentazosin dapat mengakibatkan depresi nafas yang sebanding meferidin.

Sediaan dan Dosis
Pentazosin : 30 mg (secara IV/IM) dapat diulang tiap 3-4 jam, dosis total maksimal 360 mg/ hari
Untuk analgesi optaltik diberikan dosis tunggal 20 atau 30 mg secara IM.
Sediaan : vial 1, 1,5, 2 dan 10 ml
b. Butorfanol
Secara kimia mirip levorfanol akan tetapi profil kerjanya mirip pentazosin. Pada penderita paska beda, suntikan 2 -3 mg butorfanol menimbulkan analgesi dan depresi nafas menyerupai efek akibat suntikan 10 mg morfin atau 80 mg meferidin. Seperti pentazisin dan obat lain yang dihipotesiskan bekerja pada reseptor K dan σ, peningkatan dosis juga disertai memberatnya depresi nafas dan menonjol.

Farmakodinamik
Efek farmakodinamik butorfenol sama seperti pentazosin.
Efek Samping
Butorfanol menyebabkan ngantuk, mual, berkeringat kadang-kadang terjadi gangguan kardiocaskular yaitu kalpitasi dan gangguan kulit rash.
INDIKASI butarfanol efektif mengatasi nyeri akut pasca operasi sebanding dengan morfin eferidin atau pentazosin. Demikian pula butorfanol sama efektif dengan mefiridin untuk medikasi preanastetik akantetapi efek sedasinya lebih kuat.
Sediaan dan dosis
Butorfanol : dewasa 1-4 mg IM atau 0,5 – 2 mg IV dan dapapt diulang sampai dengan 2-4 jam



















KESIMPULAN
Analgetika adalah senyawa yang dalam dosis terapetik meringankan atau menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anestesi umum. Kesadaran akan perasaan sakit terdiri atas dua tahap yaitu tahap penerimaan perangsang sakit dibagian otak besar dan tahap reaksi emosional dari individu terhadap perangsang ini.
No Nama obat Dosis Indikasi Efek samping
1 Gol.non-Narkotik
-Asam mefenamat


dosis aawal 500 mg, dilanjutkan dengan dosis 250 mg, setiap 6 jam jika
digunaUntuk dismenore penggunaan saat terjadi haid, pnggunaan tidak lebih dari 2 -3 hari. Nyeri ringan sampai sedang Dyspepsia, diare, perdarahan gastrointestinal. Sakit kepala, pusing, mengantuk.

-Parasetamol oral : 0.5-1 gram sehari
Anak 2 bulan : 60 mg pada demam pasca operasi
Usia < 3 bulan hanya dengan nasehat dokter.
3 bulan-1 tahun : 60-120 mg perhari Nyeri ringan Hipersensitivitas dan kelainan darah. Penggunaan kronis dari 3-4 gram/hari, kerusakan hati, pada dosis > 6gram nekrosis hati. Overdose bias mual, muntah dan anorexia.
-Aspirin Oral : 4 dd 0,5 1 g p.c., maksimum 4 g sehari
anak-anak 1 tahun 10 mg/kg 3-4 kal/hari
1 – 12 tahun 4-6 dd,
> 12 tahun 4 dd 320-500 mg, maksimum 2 g/hari.
Rektal : dewasa 4 dd 0,5 – 1 g, anak-anak sampai 2 tahun 2 dd 20 mg/kg, di atas 2 tahun 3 dd 20 mg/kg p.c. Nyeri ringan sampai sedang, pada dosis rendah sebagai anti koagulan. Reye's syndrome : Iritasi lambung karena bersifat asam.
Efek terhadap Sistem syaraf : Nyeri pada ujung syaraf, sakit kepala, epilepsi, agitasi, perubahan mental, koma, paralisis, pusing, limbung, depresi, bingung,amnesia, sulit tidur.
-Ibuprofen

Artritis : 400-800 mg 3-4 kali sehari (maksimun 3.2 g/hari)
Juvenile artritis : 30-40 mg/kg BB/hari dalam 3-4 dosis terbagi (maksimum 50 mg/kg berat badan)
Nyeri ringan s/d sedang : 200-400 mg tiap 4-6 jam, bila perlu (max 1,2 g/hari) Nyeri ringan sampai sedang Dispepsia, heartburn, mual, muntah, diare, konstipasi, anoreksia dll. sakit kepala, pusing,
tinitus, penurunan pendengaran, gangguan penglihatan sakit kuning, kenaikan SGOT & SGPT
-Na.diklofenak
Dosis awal : 50 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 8 jam jika perlu Nyeri ringan sampai sedang gangguan pada saluran cerna
,tukaklambung,perdarahansalurancerna.
sakit kepala (3-9% pasien), depresi, insomnia, cemas.
(kurang dari 1% pasien) terganggu fungsi ginjal (azotemia,proteinuria,nefrotik sindrom dll), retensi cairan, hipertensi,(3-9%pasien),asma (kurang dari 1% pasien) lekopenia, trombositopenia, hemolitik anemia (kurang dari 1% pasien),hepatitis, sakit kuning (jarang), peningkatan SGOT

Golongan narkotik
- Morfin dan alkaloid opium

Mefiridin : 50-100 mg
Diindikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan obat analgesic non opioid Pusing, berkeringat, euporia, mulut kering, mual, muntah, perasaan lemahl, gangguan penglihatan, palpitasi, disforia, sinkop dan sedasi
2. - Metadon 2,5 – 15 mg (dalam bentuk tablet, vial dan ampul) Jenis nyeri yang sama dengan nyeri pada morfin Menyebabkan perasaan ringan, pusing, kantuk, fungsi mental terganggu, berkerigat, pruritus, mual dan muntah. Efek samping yang jarang timbul adalah delirium, halusinasi selintas dan urtikaria hemoragik.
3. -Propoksifen
65 mg 4x sehari (dalam bentuk tablet dan vial) Hanya digunakan untuk mengobati nyeri ringan sampai nyeri sedang Propoksifen memberikan efek mual, anoreksia, sembelit, nyeri perut dan kantuk, kurang lebih sama dengan kodein

4. - Antagonis Opioid

Nalorfin HCL : 0,2 mg /ml unutuk anak, 5 mg/ml untukdewasa
Levalorvan : 1 mg/ml
Nalokson : 0,4 mg/ml
Antagonis opioid ini diindikasikan untuk mengatasi depresi nafas akibat ngantuk, mual, berkeringat kadang-kadang
5. - Agonis Parsial Pentazosin: 30 mg (IV/IM) dosis total maksimal 360 mg/ hari
analgesi optaltik diberikan dosis tunggal 20 atau 30 mg secara IM. Nyeri sedang tetapi kurang efektif dibandingkan morfin untuk nyeri berat. untuk medikasi pre anastetik. Bila digunnakan untukk analgesi opstertik pentazosin dapat mengakibatkan depresi nafas yang sebanding meferidin. Ngantuk, mual, berkeringat kadang-kadang terjadi gangguan kardiocaskular yaitu kalpitasi dan gangguan kulit rash







DAFTAR PUSTAKA

1. Tan HT, dan Rahardja K. Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan, dan Efek Sampingnya. Edisi V. PT. Alex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Jakarta. 2002.
2. Tim penyusun, 2008, ISO Farmakoterapi,ISFI, Jakarta
3. Campbell, W.B. (1991). Lipid-Derived Autacoids : Eicosanoids and Platelet-Activating Factor. Dalam: Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics. Ed 8. Editor: Gilman, A.G. et al. New York: Pergamon Press. Vol. I. Halaman 600-602, 605-606, 61 1.
4. Pamela C, dkk, Farmakologi Ulasan Bergambar, Edisi 2. PT. widya medika : Jakarta
5. Ganiswarna, Sulistia. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. 1995. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta